KOTA BLITAR - Bakteri Escherichia coli atau E-coli tak sekadar menyebabkan diare. Namun, juga bisa memicu kekurangan gizi atau stunting. Karena itulah penting menjaga kebersihan air yang akan dikonsumsi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, drg Agus Sabtoni menyatakan, kandungan bakteri E-coli pada air sumur berperan penting dalam penularan penyakit. Bakteri ini hidup secara normal di dalam kotoran manusia maupun hewan. Biasanya, bakteri penyakit terbawa ke dalam air melalui kontaminasi tinja ataupun memang sudah ada dalam air tanah.
“Penyebab lainnya karena ketidakcermatan dalam mengatur sisa pembuangan,” ujarnya, kemarin (20/3).
Agus mengatakan, E-coli menyebabkan diare. Meski terlihat sepele, tetapi imbasnya besar. Yakni, terbuangnya zat gizi. Hal inilah yang memicu kurang gizi atau stunting. “Jika berlangsung akut bisa menyebabkan kematian,” jelasnya.
Ada berbagai cara mencegah infeksi bakteri E-coli. Salah satunya, menjaga kualitas air di lingkungan. Beberapa langkah untuk merealisasikan yakni melindungi sumber mata air. Selain itu, juga harus memastikan ember penampungan air tertutup rapat.
Tak hanya itu, jarak sumber air dengan pembuangan harus diperhatikan. Minimal 10 meter. “Selain itu, wajib mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman,” katanya.
Dia menambahkan, air merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Mayoritas mendapatkan air dari sumur. Ini dipakai untuk beragam kebutuhan. Mandi, mencuci, hingga konsumsi. “Sebaiknya mengonsumsi air yang lebih higienis selain dari sumur,” tuturnya.
Untuk diketahui, sebanyak 70 persen sumur di Bumi Bung Karno telah tercemar bakteri E-coli. Air yang telah tercemar bakteri tersebut sudah tak layak konsumsi. Sebab, dapat menjadi penghambat penyerapan gizi penting. “Jika terjadi pada anak bisa berpengaruh pada angka gizi buruk,” tandasnya. (mg1/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni