KOTA BLITAR - Mengonsumsi makanan manis saat berbuka puasa memang nikmat. Namun, jangan sampai berlebihan. Sebab, bisa memicu obesitas alias kelebihan berat badan.
Es buah, es sirup, dan berbagai jenis minuman manis lain banyak tersedia di berbagai bazar takjil Ramadan. Semuanya terasa nikmat saat berada di dalam mulut dan mengalir dalam tenggorokan. Ampuh usir dahaga setelah seharian penuh berpuasa.
Namun di balik itu semua, masih ada ancaman penyakit jika dikonsumsi secara berlebihan. Salah satunya, rasa manis yang berasal dari berbagai bahan makanan. Misalnya, susu kental manis ataupun sirup.
“Susu kental manis dan sirup tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan,” ujar Kepala Instalasi Gizi RSK Budi Rahayu, Maria Dewi, kemarin (24/3).
Makanan yang mengandung gula tinggi, kata Maria, sebaiknya dihindari saat berbuka puasa. Rasa manis memang dapat menggantikan kadar gula darah yang telah turun setelah berpuasa. Namun, itu juga tak boleh sembarangan. “Tubuh memang membutuhkan pengganti kadar gula yang turun, asalkan tidak berlebihan,” katanya.
Dia melanjutkan, jumlah kalori dalam satu gelas es buah yang tentu terasa manis cukup banyak. Karena itulah, kalori yang masuk ke dalam tubuh juga banyak. Hal ini akan berpengaruh pada kesehatan tubuh. Akibatnya, tubuh rawan obesitas. Lebih baik memilih konsumsi buah segar daripada makanan manis saat berbuka puasa. Sebab, kandungan gizi buah dapat membantu penambahan vitamin tubuh.
Saat berbuka, lanjut Maria, mulailah minum air secukupnya. Ini untuk mengatasi dehidrasi akibat berpuasa. Selain itu, makan saat berbuka harus dilakukan secara bertahap. “Hindari ‘balas dendam’, yakni langsung makan dalam porsi besar,” paparnya.
Setelah berpuasa, tubuh juga beradaptasi. Terutama organ pencernaan. Karena itulah perlu dilakukan secara bertahap. Ini agar tidak merasa kekenyangan dan meningkatkan produksi insulin. Jika ada, konsumsi kurma untuk meningkatkan kadar glukosa darah. “Pastikan menu buka puasa bergizi seimbang dan mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh,” tandasnya. (mg1/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni