Oleh : Gigih Mardana*
Hari demi hari Ramadhan telah dan sedang kita lalui. Setiap jam, menit bahkan detiknya begitu bernilai. Teramat sayang jika terlewat tanpa amal kebaikan. Bulan Ramadhan adalah saatnya panen raya pahala kebaikan. Pada bulan seluruh kebaikan dilipatgandakan pahalanya.
Begitu besarnya pahala pada Bulan Ramadhan, sampai pahala puasa Allah yang akan memberikan langsung memberikan pahalanya. Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan langsung membalasnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Bahkan sekiranya umat ini mengetahui keutamaan yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka menghendaki agar sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan.
Berbagai dalil tentang besarnya pahala dan berkah pada Bulan Ramadhan perlu dijadikan acuan sekaligus motivasi bagi umat untuk terus produktif melakukan amal kebaikan. Baik amal ibadah yang mahdhah maupun yang ghairu mahdhah. Baik ibadah kepada Allah (hablum minallah), maupun ibadah kepada sesama manusia (hablum minannas), juga ibadah memberikan kebaikan kepada alam semesta (hablum minal alam).
Sejarah mencatat, ada beberapa peristiwa penting terjadi pada Bulan Suci Ramadhan. Perang Badar yang menandai awal kejayaan Islam terjadi pada Bulan Ramadhan. Peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah) juga terjadi pada bulan suci ini.
Di tanah air, peristiwa Proklamasi kemerdekaan bangsa ini juga terjadi pada Bulan Suci Ramadhan. Tepatnya hari Jum’at, 9 Ramadhan 1364 Hijriah.Para perumus proklamasi seperti Bung Karno, Bung Hatta, Achmad Soebarjo dan termasuk pengetik naskah proklamasi Sayuti Melik bersantap sahur bersama saat lepas dini hari merumuskan naskah dan teknis proklamasi kemerdekaan.
Puasa bukan alasan untuk bermalas – malasan. Puasa bukan sarana untuk menambah jam tidur secara berlebihan. Sebaliknya, limpahan ganjaran dan berkah selama puasa Ramadhan perlu dimanfaatkan untuk hal – hal produktif yang memberikan nilai manfaat kepada keluarga, agama dan bangsa. Itulah yang diteladankan para sahabat Nabi dan para pendiri bangsa ini.
Kita bisa melihat semangat (ghirah) dan antusiasme sebagian umat saat Ramadhan begitu meningkat. Ibadah wajib ditingkatkan, ibadah sunnah pun dilaksanakan. Kerja – kerja kreatif juga meningkat, pekerjaan – pekerjaan baru yang mendatangkan penghasilan secara ekonomi juga bermunculan. Kita jangan sampai ketinggalan.
Data menyebut Ramadhan selalu memberikan energi positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah bahkan di seluruh Indonesia. Ramadhan sampai dengan menjelang Idul Fitri perputaran uang selalu meningkat. Menurut perkiraan, Ramadan dan Lebaran tahun ini akan membawa perekonomian Indonedia di kuartal II-2023 berada pada kisaran 5% hingga 5,5% year on year (YoY). Sementara di sepanjang tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diramal pada kisaran 4,5% hingga 5% YoY (Kontan, 26 Februari 2023).
Islam mengajarkan kepada umat untuk hidup produktif, cerdas memanfaatkan waktu, dan tidak menyia-nyiakan waktu. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Mukmin yang kuat ini tentu bisa dimaknai dalam arti yang luas. Baik kuat imannya, kuat ilmunya, kuat akhlaknya, kuat ekonominya dan bahkan kuat fisiknya. Kekuatan itu dapat diraih jika mampu secara produktif memanfaatkan waktu dan setiap peluang menjadi amal ibadah.
Sungguh, jika sekiranya salah seorang di antara kamu membawa talinya, kemudian pulang membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian dijual sehingga Allah mencukupkan kebutuhannya (maka) itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik diberi maupun ditolak (HR Bukhari). Dalil ini dapat menjadi penegasan tentang perlunya memilih jalan hidup yang produktif untuk menjaga kehormatan.
Sudah saatnya seorang muslim meninggalkan hal – hal yang tidak bermanfaat. Segera berpindah perilaku untuk berupaya mengisi setiap waktu dengan hal – hal produktif. Hal itu bisa kita mulai dengan mengambil momentum Ramadhan yang suci ini. Kebiasaan – kebiasaan baik pada Bulan Ramadhan jangan berhenti saat bulan ini berlalu.
Perilaku hidup produktif yang meningkat pada Bulan Ramadhan ini perlu dilanjutkan saat Ramadhan telah berakhir nanti. Mengingat, orang yang sukses puasanya salah satu indikatornya adalah yang bisa menjadi lebih baik dan lebih produktif dan secara istiqomah melanjutkan hal – hal baik yang telah dikerjakan pada Bulan Ramadhan.
*Penulis adalah Sekretaris Umum MUI Kota Blitar Editor : Endah Sriwahyuni