KABUPATEN BLITAR - Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda sedikit berbeda dari ponpes lain di Blitar Raya. Ponpes ini dibangun pada abad ke-17, dan diguga sebagai titik awal penyebaran Islam di Blitar. Tidak hanya untuk menimba ilmu para santri, tapi juga jadi destinasi wisata religi.
Suasana asri terasa saat menjajaki bangunan tua Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro ini. Papan jati berlapis politur itu berdiri kokoh di setiap sisi ruangan. Tak hanya sebagai dinding, melainkan seluruh luasan lantai juga menggunakan kayu ini. Bangunan berbentuk joglo ini terasa berbeda daripada bangunan lain di sekitarnya.
Pagi itu, tampak seseorang perpeci menyapa Koran ini dari sudut teras. Dia adalah pengelola Ponpes, Mohamad Kirom Sidiq. “Ada beberapa bagian dinding yang kini dikombinasi dengan anyaman bambu,” ujarnya.
Pondok tersebut terdiri atas enam kamar. Nuansa tiap kamar terasa klasik. Selama ini ruangan tersebut digunakan para santri untuk menimba ilmu. “Bangunan pondok ini memang masih sama seperti sebelumnya, meskipun ada bagian yang sudah lapuk karena sudah lama,” terang pria 68 tahun itu.
Tak hanya untuk para santri, pondok tersebut kadang juga digunakan untuk menginap para peziarah dari luar kota. “Tempat ini menjadi lokasi awal agama Islam tumbuh dan disebarkan di Blitar,” terangnya.
Deretan batu andesit menjadi bancik atau alas antara masjid dengan pesantren dan tempat wudhu. Batuan tersebut menjadi pijakan usai bersuci. Keberadaan batuan tersebut juga menjadi simbol bahwa tempat tersebut sudah sangat lawas. “Batuan andesit seperti ini umumnya menjadi struktur bangunan candi,” paparnya.
Adalah Syekh Abu Hasan, sosok dibalik babat alas daerah Kuningan. Konon, beliau juga yang mendirikan ponpes pertama di Blitar. Di samping itu, beberapa literatur menyebutkan, Syekh Abu Hasan adalah putra guru agama dari Sleman. Dia menuntut ilmu di salah satu Madrasah Diniyah milik Keraton Ngayogyakarta.
Tak hanya itu, kata Kirom, Syekh Abu Hasan juga pernah diangkat menjadi salah satu penghulu keraton karena kecerdasannya. Bahkan, dia juga dianugerahi tombak Dwi Sula oleh Pangeran Diponegoro.
Pada 1818, beliau berangkat berdakwah ke Wilayah Timur. Saat itu, dia ditempatkan di wilayah Blitar. Tepatnya, dalam kepemimpinan bangsawan keturunan Mataram, Raden Aryo Blitar. “Tahun itu tepatnya empat tahun sebelum Perang Jawa atau yang dikenal dengan Perang Diponegoro,” sebutnya.
Syekh Abu Hasan singgah pertama kali di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum. Dia menikah dengan gadis desa bernama Riyah. “Karena tidak betah, akhirnya pindah ke Desa Kuningan serta mendirikan masjid dan Ponpes,” bebernya.
Syekh Abu Hasan menyiarkan agama Islam dengan lemah lembut. Artinya tidak ada kekerasan dan pemaksaan kepada masyarakat sekitar. Sehingga, tak heran jika hal ini memiliki daya tarik untuk memeluk agama Islam. “Banyak yang bilang kalau syiar beliau seperti syiar para Wali Songo,” ungkapnya.
Tak hanya itu, masjid yang tak jauh dari Ponpes juga masih tampak megah. Selain karena pilarnya baru selesai direnovasi, namun juga banyak ukiran yang menyatu. Motif ukiran kayu melekat di seluruh bangunan masjid.
Kirom menambahkan, ukiran yang terdapat di setiap bangunan adalah motif kaligrafi. Tulisannya berbunyi kalimat tauhid. Selain itu, di atap masjid ditemukan huruf Arab bertuliskan 1796. Hal ini menandakan bahwa, masjid tersebut dibangun pada tahun itu. “Ada tulisan angka 1823 di langit masjid, jadi saya tidak bisa memastikan kapan masjid ini berdiri,” akunya.
Pondok dan masjid tersebut diberi nama sekitar 1960 lalu. Sebelumnya, pondok dan masjid tersebut tidak ada namanya. (*/hai) Editor : Endah Sriwahyuni