KOTA BLITAR - Empat tahun menjadi muazin di Masjid Agung Miftahul Jannah Wlingi, empat tahun pula Muchamad Choirul Anwar fasih azan ala Makkah-Madinah. Dia kini masih rutin menjaga kualitas suara seperti melatih pernapasan dan olahraga.
Hawa ketenangan terasa saat para jemaah tampak melangkahkan kakinya menuju masjid akbar se-Wlingi, Masjid Agung Miftahul Jannah, menjelang magrib. Beberapa jemaah perempuan ada yang sudah mengenakan atasan mukena. Sebagian jemaah laki-laki tampak sibuk memperbaiki lipatan sarung.
Di antara riuhnya suasana di pelataran asri masjid bernuansa hijau itu, muncul pria bertubuh tegap yang lengkap mengenakan baju koko, sarung, dan songkok. Sambil berjalan ke saf salat sisi terdepan, pandangan matanya tampak tenang. Sebuah mikrofon perlahan dia raih, lantas diarahkan tepat di depan bibirnya.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar,” serunya melafalkan bacaan azan, panggilan umat Islam mendirikan salat.
Muchamad Choirul Anwar namanya. Sosok berusia 29 tahun itu merupakan salah satu muazin di masjid yang terletak di Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Beru, Kecamatan Wlingi. Dia mendapat kepercayaan mengumandangkan azan magrib, bergantian dengan empat muazin lainnya. Suara lantang berpadu dengan artikulasi yang jelas, membuatnya mudah dikenali meski hanya lewat vokal.
Berangkat sebagai siswa di madrasah aliyah, membuat pria yang akrab disapa Irul itu tak menyangka bisa menjadi muazin di masjid agung tersebut. Sebab, kendati sejak belia sudah akrab dengan mikrofon, kala itu menjadi muazin bukan prioritas utamanya.
“Karena kesadaran dan istiqamah, tentunya. Sudah dewasa ini justru sangat bersyukur, soalnya banyak proses yang saya lewati,” papar pria asal Desa Pagergunung, Kecamatan Kesamben itu.
Di masjid yang mengusung arsitektur perpaduan Makkah dan Madinah itu, dia mendapat tugas mengumandangkan azan magrib. Setiap muazin termasuk Irul melafalkan seruan azan menggunakan versi Makkah dan Medinah. Aturan baru diterapkan sekitar 2019 lalu, tepat saat perombakan sekretariat pengurus takmir dan renovasi rampung.
Baginya, melantunkan azan dengan gaya tersebut memiliki tantangan tersendiri. Selain harus fashahah, aspek dinamika dan irama mendayu-dayu jadi karakteristik azan Madinah yang harus kentara. Untuk itu, lanjut dia, butuh proses untuk berlatih, serta membiasakan dengan versi tersebut.
“Awalnya belum terbiasa. Tapi berkat latihan, jadi cepat bisa. Tantangannya ada pada menjaga pita suara dan pernapasan perut atau diafragma,” ungkapnya.
Secara gamblang, suara dapat terdengar empuk lantaran ditunjang dengan cermat mengatur pola makan. Seperti menghindari gorengan, pedas, dan terlalu dingin. Kemudian, muazin kudu melatih sistem pernapasan dengan olahraga joging atau berenang. Istirahat yang cukup juga jadi indikator suara lantang dan stabil.
Saat Ramadan, sebelum mengumandangkan azan magrib, dia lebih dulu membatalkan puasa dengan minum air mineral. Ini agar pita suara tidak kaget saat azan mencapai nada tinggi. “Alhasil suara bisa lepas, tidak tertahan,” tandasnya. (*/c1/wen) Editor : Doni Setiawan