KOTA BLITAR - Penyebaran Islam di Blitar sudah ada lebih dari seabad silam. Buktinya, adanya masjid yang sudah cukup lama berdiri. Hingga kini, kondisinya pun masih terawat. Salah satunya, Masjid Agung Kota Blitar. Pada Ramadan tahun ini, masjid tersebut selalu ramai didatangi jemaah.
Sore itu Jawa Pos Radar Blitar mengunjungi salah satu masjid bersejarah di Blitar. Yakni, Masjid Agung Kota Blitar. Tepatnya di sebelah barat Alun-Alun Kota Blitar. Sekilas tampak dari luar, bangunan terlihat masih baru. Namun, ketika melihat ke dalam, masih cukup banyak aslian masjid tersebut.
Salah satunya, adanya bangunan dari kayu yang hingga kini masih terjaga kasliannya. Bentuknya pun sengaja dipertahankan, terutama pada pilar dan atap bangunan. “Hanya kayunya sudah diplitur, dicat, agar lebih awet,” ujar Sekretaris Takmir Masjid Agung, Arif Murtadho, kemarin (17/4).
Arif menjelaskan, Masjid Kota Agung menjadi saksi penyebaran Islam di wilayah Blitar Raya. Konon, masjid tersebut didirikan pada 1820 silam. “Lokasi masjid ini sempat pindah tiga kali,” paparnya.
Awalnya, masjid tersebut berada di Kecamatan Srengat. Kala itu Kecamatan Srengat menjadi ibukota Kabupaten Blitar. Akibat bencana yang kerap melanda wilayah setempat, masjid pun dipindah ke Kelurahan Pakunden. Tepatnya di sebelah utara jembatan Kali Lahar. Bangunan masjid tersebut selalu tampak sederhana. “Bahkan dinding dan atapnya juga terbuat dari bahan yang sederhana,” katanya.
Berada di wilayah Pakunden tak lantas membuat masjid tersebut aman. Buktinya, diterjang lahar dingin sebanyak tiga kali. Yakni pada 1826, 1835, dan 1848. Sayangnya, pada bencana terakhir, masjid mengalami kerusakan cukup parah. “Bencana tersebut terjadi akibat meletusnya Gunung Kelud,” tuturnya.
Bencana besar yang rentan terjadi saat itu mengharuskan posisi ibukota harus dipindahkan. Pasalnya, bencana tersebut menyebabkan pemerintahan terganggu. Tak hanya itu, bencana tersebut menyebabkan permukiman daerah setempat hancur. “Sehingga posisi masjid dipindah ke tempat saat ini (barat Alun-Alun Kota Blitar, Red),” terangnya.
Pembangunan masjid tersebut dilakukan pada 1890. Bangunan masjid identik dengan nuansa tradisional. Meski begitu, masjid telah mengalami beberapa kali renovasi.
Arif memaparkan, gapura masjid dibangun pada 1927. Setahun berikutnya, dibangun menara yang berada di sebelah selatan masjid. Pada 1933, masjid diperluas. Hal tersebut dibuktikan dengan penambahan serambi di kanan dan kiri masjid. “Rencana perluasan masjid masih akan terus diupayakan hingga sekarang,” paparnya.
Dia mengaku, perluasan masjid sulit dilakukan. Sebab, lahan yang tersisa minim. Akibatnya, penambahan bangunan hanya bisa dilakukan ke atas. Selain itu, pihaknya masih menjaga keaslian dan keutuhan ornamen. “Ini juga merupakan salah satu pesan dari para pendahulu,” akunya.
Arif menunjukkan, desain bagian dalam masjid masih bertahan hingga kini. Hal ini dibuktikan dengan adanya bentuk bangunan atap yang masih terkesan kuno. Seperti, bentuk lancip pada atap dan jendela kayu yang masih melekat di dinding dalam. “Gapura dan menara sempat roboh akibat bencana, kemudian dibangun lagi di tempat berbeda,” katanya.
Kini masjid tersebut mampu menampung hingga 5.000 jemaah. Bahkan, kini kegiatan dilakukan secara masif di masjid tersebut. Mulai dari khataman, istighotsah, hingga pengajian. Pada hari biasa, pengajian setiap pagi. Yakni, pengajian kuliah Subuh. Selain itu, dilakukan pengajian Ahad Wage dan Ahad Kliwon. “Jemaah masjid ini berasal dari seluruh Blitar Raya,” jelasnya.
Suasana Masjid Agung tak pernah sepi dari jemaah. Baik jemaah yang selalu datang setiap hari maupun jemaah yang hanya sekadar singgah. Tak hanya itu, tiap hari ada kegiatan keagamaan. Seperti TPQ, madin, hingga kegiatan para remaja masjid. “Kami memfasilitasi seluruh kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Agung Kota Blitar,” tandasnya. (*/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni