KOTA BLITAR - Permintaan daging sapi di Bumi Bung Karno selama momen Lebaran beberapa waktu lalu cukup tinggi. Kondisi ini membuat harga daging sapi sempat melonjak hingga Rp 160 ribu per kilogram (kg). Kenaikan terjadi sejak H-3 Lebaran.
Pantauan Koran ini di lapangan kemarin (1/5), beberapa kios jagal sapi mengklaim harga daging berangsur-angsur turun. Satu di antaranya di kios Pasar Legi, Kecamatan Sukorejo milik Saidah Sriani, 58. Kemarin (1/5), harga daging nomor satu turun menjadi Rp 120 per kg dari sebelumnya Rp 160 ribu per kg. “Setiap tahun kalau menjelang hari raya memang begini, naik. Lalu turun pas Lebaran ketupat. Harganya normal lagi,” kata perempuan berhijab ini.
Harga yang sudah stabil tak hanya terjadi pada daging nomor satu. Harga daging bagian lainnya juga turun. Seperti daging kualitas nomor dua dibanderol Rp 100 ribu per kg, iga daging dan ekor masing-masing Rp 85 ribu per kg, dan jeroan seharga Rp 50 ribu per kg. Dalam sehari, dia bisa menjual sekitar 1 kuintal daging. “Naiknya hampir Rp 30 ribu per kg. Itu terjadi selama tiga hari selama hari raya,” jelasnya.
Hal serupa juga diungkapkan Sulastri, penjual saging sapi di Pasar Templek. Dia mengaku harga daging sempat melonjak sepekan terakhir bulan puasa. Bahkan, tiga hari saat Lebaran harga daging belum turun. Saat itu, harganya berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 160 ribu per kg.
Sedangkan pascalebaran, sambung dia, harga daging kembali stabil. Untuk harga daging sapi kualitas nomor satu dijual seharga Rp 120 ribu-Rp 125 ribu per kg dan daging nomor dua Rp 100 ribu-Rp 110 ribu per kg. Dia menilai, jarang ada kenaikan harga setelah momen Lebaran.
Selain karena aktivitas pemudik yang kembali lancar, minimnya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sapi dan kambing juga membuat penjualan kembali stabil. “Permintaan paling tinggi daging kualitas nomor satu dan dua. Penjualan saat Lebaran tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu,” tandasnya. (luk/sub) Editor : Endah Sriwahyuni