Itu seperti yang terlihat di Stasiun Blitar. Sopir angling tak seperti dulu yang selalu laris mengantar penumpang ke berbagai tujuan. Informasi yang berhasil dihimpun, angling kalah saing dengan angkutan lain. Salah satunya, penyedia jasa angkutan online. “Biasanya per hari hanya mendapat penumpang sekitar 20 orang. Itu hanya untuk lima hingga enam kali jalan. Padahal dulu bisa lebih dari itu,” ujar salah seorang sopir bajaj angling, Suprianto.
Dia mengaku, para penumpang kereta api yang turun di Blitar jarang menggunakan bajaj angling. Mereka lebih memilih transportasi online. Bahkan, tak jarang memilih dijemput keluarga. Pria ramah itu berharap ada perhatian dari pemerintah setempat. Dengan begitu, angling bisa kembali bergairah. “Jadi, jasa bajaj jarang diminati masyarakat,” ungkapnya.
“Kebanyakan masyarakat memilih menggunakan ojek online,” imbuhnya.
Nur Indah, salah seorang penumpang kereta api yang turun di Stasiun Kota Blitar mengaku bahwa sebenarnya tertarik dengan angling. Namun, dia ragu lantaran jarak tempuh dari stasiun ke tempat tujuannya cukup jauh sehingga menambah biaya. Karena itulah dia memilih dijemput saudaranya. “Kebetulan belum bawa buah tangan, jadi mau mampir toko dulu,” katanya.
Dia menambahkan, bajaj angling terlihat kalah saing dengan transportasi lain. Utamanya perihal tarif. Karena itulah, perlu ada kajian ulang terkait hal tersebut. “Aplikasi jasa memberikan promo cukup banyak yang dapat memikat pengguna,” tandasnya. (mg1/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni