Hunian Tarmini memang jauh dari pusat kota maupun Kabupaten Blitar. Persisnya di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Gandusari. Kendati hidup berdampingan dengan rindangnya pepohonan dan luput dari ingar-bingar lampu kota, itu tak memupus konsistensinya menjadi wirausaha produksi keripik aneka sayur.
Memasuki ruang tamu, sebuah etalase kaca berukuran besar terpampang di belakang sofa. Etalase tersebut penuh dengan jajanan yang setiap hari dibuat perempuan yang karib disapa Yu Mi ini. Misalnya, keripik rebung, oyong, terong, pare, gethuk, hingga lompong alias batang talas. Beberapa jenis sayuran seperti lompong atau oyong memang urung terlalu familier. Namun, siapa sangka jika keripik sayuran tersebut justru laris manis.
“Saya yakin ini jawaban dari doa-doa saya. Dulu dapat majikan kurang baik, lalu saya janji tidak mau ke luar negeri dan akan berusaha di negeri sendiri,” ungkapnya.
Dia menceritakan, kali pertama menjadi PMI dilakoni pada 1995 silam. Saat itu, dia bekerja di sebuah pabrik industri elektronik. Empat tahun setelahnya yakni pada 1999, dia kembali ke kampung halamannya untuk melepas masa lajang. Nah, pengalaman tak menyenangkan yang dia rasakan selama menjadi buruh migran yakni pada paruh akhir 2007.
Kala itu, dia harus berjuang mengurus hunian susun lima lantai milik majikannya. Merasa komunikasi dengan majikan kurang nyaman, dia memutuskan pulang. Setelah melewati proses panjang sejak 2008, barulah sekira 2016 dia merintis pembuatan keripik. Bahan pertama yang jadi eksperimen yakni tahu.
“Bikin tahu kres biar tidak melempem sangat susah. Saya coba berkali-kali gagal, sampai akhirnya berhasil. Saya dapat PIRT di tahun itu,” papar ibu dua anak itu.
Semakin percaya diri, Yu Mi -sapaannya- lalu berusaha mengolah jenis sayuran menjadi keripik. Yakni, pare yang populer dengan rasa pahitnya. Kendati sempat berulang kali gagal, usaha keras tetap dia lakukan hingga keripik pare itu jadi camilan kesukaan anak-anak. Keripik dari sayuran lain yakni lompong hingga rebung pun kini berhasil diolah menjadi makanan ringan yang nikmat.
Baginya, setiap sayuran yang dimasak memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tak terkecuali rebung. Ide membuat keripik rebung tercetus dari salah seorang rekannya. Di awal pembuatan, produk keripik itu “gatot” (gagal total). Rasanya pun tidak bisa diterima lidah. Bahan baku rebung itu kemudian dimasak melalui berbagai tahapan. Misalnya, pencucian dan dibilas hingga beberapa kali, lalu dilumuri adonan tepung dan digoreng.
“Saya enam kali gagal bikin keripik rebung. Begitu berhasil, bikin keripik gambas atau oyong dan lompong,” bebernya.
Pemasaran di tahun pertama, lanjut dia, membuatnya kewalahan. Dia pun kini memanfaatkan metode promosi melalui media sosial dan aktif buka lapak di berbagai acara untuk menggaet pembeli. Cara tersebut berjalan efektif. Buktinya, tak kurang 10 kilogram (kg) dari berbagai macam sayur diproduksi menjadi keripik.
Saat hari biasa, omzet yang didapat berkisar di angka Rp 3 juta-Rp 4 juta per bulan. Lalu, saat perayaan hari besar atau Lebaran, omzet sebesar Rp 20 juta sukses diraup.
“Selain sebagai penghasilan, ini ikhtiar saya agar sayur digemari anak. Sehingga minimal ada sedikit gizi dari sayuran yang diserap,” tandasnya. (*/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni