Vibes musik terasa pekat saat masuk di studio Handika Rosadi. Beberapa gitar terpampang rapi di sisi ruangan. Begitu juga dengan puluhan pigora beragam gambar membalut dinding ruang itu. Di sana juga terdapat kaset dan beberapa buku tentang musik.
Handika Rosadi, mulai tertarik dengan musik sejak 2002. Festival perdananya dimulai pada tahun yang sama. Baginya, mengikuti festival musik lebih menantang. Selain itu dapat meningkatkan skill. “Ikut festival musik itu tak hanya dapat piala, tapi juga bisa dapat uang yang cukup banyak,” terang pria berambut panjang itu.
Dika, sapaannya, mengaku keluarganya bukanlah seorang seniman musik. Namun, hal itu tak menjadi kendala bagi sosok rocker ini untuk bisa mendunia. “Keluarga tidak ada yang bisa bermain musik,” ungkapnya.
Kondisi lingkunganlah yang membuatnya bisa bermain dan cinta musik. Sebab, kala itu dia berada di lingkungan para musisi, terutama gitaris. Dia bermain gitar agar tidak dibully teman nongkrongnya. “Kalau tidak bisa main gitar selalu dibully sama teman tongkrongan,” kata pria asal Kelurahan/Kecamatan Sukorejo ini.
Extreme Band menjadi grup band panutannya. Gitaris grup band tersebut membuatnya tertarik untuk mahir bermain gitar. Tak hanya itu, pengalamannya mengikuti festival selalu menang saat membawakan lagu dari band tersebut. “Makanya tempat ini diberi nama studio extreme, agar dapat memotivasi,” jelasnya.
Tak sedikit panggung yang telah dia jajaki. Bahkan sering berkelana hingga ke luar kota. Seperti, Malang, Surabaya, hingga Bali. Meskipun begitu, dia tak henti berlatih. Terus mengembangkan kemampuannya dengan berlatih setiap hari. “Kurang lebih selama enam hingga delapan jam,” katanya.
Bagi Dika, hidup dengan musik uangnya banyak. Bahkan, musik dapat menentukan kemajuan kota. Hal ini telah dibuktikannya dari berbagai pengalamannya berkelana di banyak kota. “Kalau musiknya maju, kotanya pasti maju,” ujarnya.
Nah, di studio tersebut, terdapat ornamen sufisme yang menarik perhatian. Ornamen tersebut tak hanya memperindah studio, tapi juga mengandung makna filosofi. Hal tersebut sempat mengubah sifat pada dirinya. “Dulu saya seorang pendendam dan selalu memikirkan dunia, tapi setelah belajar ini ada kejadian yang nyata terjadi,” akunya.
Teringat dengan kisah seorang sufi, Jalaluddin Rumi. Saat itu, Rumi ditanyai, apakah sumber kehidupan selain darah. Kemudian dia meminta untuk mengambilkan pisau dan menyayat di tangannya, tepat pada nadi. Namun, Rumi tidak mati. “Ternyata sumber kehidupan yang dimaksud adalah ikhlas dan iman kepada Allah SWT,” ungkapnya.
Dika memaparkan beberapa filosofi dari tari sufi. Tari tersebut dapat dikatakan sebagai simbol kematian. Seperti, topi tinggi yang mengartikan batu nisan dan baju putih sebagai tanda kain kafan. Tak hanya itu, gerakan tari yang berputar mengartikan bahwa manusia harus ikhlas. “Bagi orang sufi dunia itu adalah penjara,” tandasnya. (*/wen) Editor : Doni Setiawan