Saat ditemui Jawa Pos Radar Blitar, Arini mengaku bahwa sejak kecil sudah belajar mengolah kain. Tak sekadar dijahit menjadi baju, tetapi juga berkembang menjadi kerajinan lain yang lebih bernilai. Keahliannya semakin bertambah lantaran kondisi lingkungan yang mendukung.
“Saya menyukai kerajinan kain karena sejak kecil sudah dikenalkan oleh orang tua saya, yang kebetulan memiliki hobi dan pekerjaan menjahit,” ungkapnya, kemarin (9/5).
Ketertarikanya di dunia kerajinan kain semakin terarah dan terasah pada 2021. Itu ketika bertemu dengan komunitas Art Market di Surabaya. “Ada momen ketika saya berkenalan dengan teman yang kebetulan terlibat dengan komunitas Art Market Surabaya. Semenjak itu saya rutin mengikuti event yang mereka gelar,” jelasnya.
Kesenian yang digeluti Arini yakni memproduksi tas, baju, dompet, notes, dan lainnya berbahan kain. Hebatnya, dia mampu mengombinasikan beberapa teknik untuk mengolah kain itu. Beberapa di antaranya teknik jumput, ecoprint, dan canting batik. “Kain kreasi yang kami buat seperti mengolaborasikan sejumlah teknik, seperti jumputan dengan shibori, atau ecoprint dengan jumputan, serta canting dan shibori,” ujarnya.
Pemasarannya tak hanya lokal, tetapi juga luar daerah. Di antaranya, Malang, Mojokerto, Surabaya, Ngawi, Solo, Jogja, Semarang, Jakarta, Palembang, serta Denpasar dan Ubud. Harga pun bervariatif. Mulai belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis dan tingkat kesulitan pembuatannya.
“Alhamdulillah diberi kesempatan untuk penjualan mencangkup beberapa daerah. Besar harapan kami untuk terus bertumbuh,” imbuhnya.
Bagi Arini, umur yang masih muda seharusnya bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk terus produktif. Selain itu, terus berinovasi dan kreatif. “Di umur saya yang masih produktif ini, akan saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk terus berkarya dan menciptakan peluang usaha melalui hobi, yakni membuat kerajinan kain ini,” terangnya.
Dia tak menampik usaha yang digelutinya tak lepas dari tantangan. Salah satunya, tak sekadar butuh kreativitas, tetapi juga kesabaran serta ketelatenan. Begitu juga dengan kondisi cuaca. Karena itulah, teknik dan skill harus terus di-upgrade, serta bagaimana cara memasarkan dan memperkenalkan produk di era digital sekarang.
Seiring berkembangnya zaman, agar bisa bertahan, sebuah usaha terlebih dalam bidang kesenian harus terus bisa beradaptasi. Baik dari inovasi dan ide, maupun manajemen pemasaran. Dengan begitu dapat diterima pasar. Baik kalangan muda maupun tua. “Kami berharap bisa masuk dalam banyak segmen, anak muda maupun orang tua. Karena kami percaya kain kreasi seperti batik hingga jumputan adalah heritage untuk semua orang,” tandasnya. (apr/bib/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni