Siswanto, salah seorang petani cabai di Kademangan, mengaku bahwa panas terik dan hujan lebat yang terjadi hampir tiap hari dikeluhkan para petani. Itu membuat tanaman cabai kerdil. Daun juga jarang. “Tanaman cabai ini sudah berusia tiga minggu, tapi daunnya belum banyak,” ujarnya, kemarin (13/5).
Pria asal Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan itu mengatakan, tanaman cabai cocok ditanam pada musim kemarau. Namun, jika cuaca terlalu panas, cabai tidak kuat. Selain itu, panas juga terpantul dari plastik. “Kalau masalah lain yang menghambat pertumbuhan tidak ada,” paparnya.
Kini, lanjut pria ramah itu, pertumbuhan tanaman cabai berbeda jauh dibanding biasanya. Sebab, pada usia tiga minggu, tanaman masih kerdil dan daunnya jarang. Sementara pada usia yang sama di musim tanam sebelumnya, daun sudah lebat. “Tinggi tanaman juga berbeda,” kata pria 55 tahun ini.
Hal lain yang juga menjadi tanda tanaman cabai tak sehat yakni layu, bahkan hampir mati. Karena itulah, perlu proses menyulam yang lebih banyak. Hal ini salah satu dampak kondisi cuaca tak menentu. “Kalau siang panas berlebih, dan malamnya hujan lebat,” jelasnya.
Siswanto menyebutkan, panen cabai kali ini bisa jadi lebih lama. Sebab, pertumbuhan tanaman terhambat. Biasanya tanaman bisa panen pada usia 75 hari. “Bisa jadi panen ini harus menunggu usia 90 hari,” paparnya.
Hal senada diungkapkan Imam Muslih, petani cabai lain. Dia mengaku resah dengan kondisi tanaman cabai kali ini. Awalnya, dia telah memprediksi musim hujan akan berakhir. Namun nyatanya, cuaca semakin ekstrem hingga berdampak besar pada tanamannya. “Saya hanya berharap nanti harga panen bisa tinggi, karena perawatan cukup sulit,” ucap pria 60 tahun ini.
Dia mengaku telah berupaya memberikan nutrisi pada tanamannya. Yakni, menggunakan pupuk kimia dan organik. Baginya, menggunakan pupuk organik saja tidak dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Sebab, hasil dari pupuk organik lebih lama. “Meskipun hasilnya lebih bagus, tapi kondisinya harus tetap dengan bantuan pupuk kimia,” jelasnya.
Terkait harga cabai di pasaran, dia mengaku gampang berubah. Hal tersebut menyesuaikan stok barang yang tersedia. Jika jumlah barang melimpah, maka harga cabai semakin murah. Begitu sebaliknya, jika barang sedikit, harga akan mahal. “Tapi tidak tau dengan kondisi cabai saat musim panen nanti,” tandasnya. (mg1/c1/wen) Editor : Doni Setiawan