Selama ini, peminat motor bekas masih ada. Bahkan, menjadi tren tersendiri karena tidak kalah bagus dengan motor baru. “Setelah pandemi, pembeli motor bekas semakin berkurang,” ujar salah satu penjual motor bekas, Esa Gundana, kemarin (16/5).
Dia menyebut, penurunan penjualan motor juga dirasakan penjual lain. Dampaknya hampir merata dirasakan karena perekonomian belum sepenuhnya pulih. “Jadi, wajar jika permintaan motor bekas tidak terlalu banyak,” katanya.
Menurut Esa, penjualan motor bisa laku ketika momen tertentu seperti menjelang Hari Raya Idul Fitri. Saat itu, penjualannya meningkat 50 hingga 60 unit, sementara pada bulan lain hanya sekitar 50 unit. “Sedangkan sebelum pandemi, penjualan bisa mencapai 60 unit,” paparnya.
Hingga kini, motor matik menjadi buronan favorit pembeli. Sejak Januari lalu, mayoritas pembeli mencari motor jenis matik. “Tidak tau alasannya, tapi permintaan lebih banyak matik,” katanya.
Soal harga, mokas tentu berbeda jauh dengan motor baru. Rata-rata, harga mokas sekitar 40-60 persen di bawah motor baru. Harga tersebut dipengaruhi oleh kondisi dan usia kendaraan.
Hal senada juga dikatakan pedagang mokas lain, Agus Susanto. Beberapa tahun terakhir ini, peminat mokas menyusut. “Terutama bagi pedagang kecil seperti ini,” keluhnya.
Agus selalu mengupayakan mokasnya terawat dengan baik. Sebab, jika motor tidak dirawat pasti akan cepat rusak. Akibatnya, motor sulit laku di pasaran. “Kami upayakan memberi pelayanan terbaik kepada pembeli, khususnya pelanggan setia,” tandasnya. (tan/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni