Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Belasan Tahun Perbaiki Arsip dan Buku Rusak di Perpustakaan Bung Karno

Endah Sriwahyuni • Kamis, 18 Mei 2023 | 20:57 WIB
TELITI: Rosalia sedang memperbaiki buku saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (17/5). (AGUS MUHAIMIN/ RADAR BLITAR)
TELITI: Rosalia sedang memperbaiki buku saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (17/5). (AGUS MUHAIMIN/ RADAR BLITAR)
KOTA BLITAR - Memelihara dokumen fisik tidak mudah. Kadar asam tinggi bisa merubah warna. Terlalu lembap picu jamur, sedangkan suhu tinggi membuat kertas rapuh.

Arsip dan buku rusak seolah menjadi hidangan yang rutin bagi Rosalia. Berbekal kuas, lem, dan beberapa jenis tisu jepang juga menghiasi meja kerjanya. Sebagai salah satu pustakawan di Perpustaan Bung Karno, Rosalia berkewajiban memelihara arsip dan buku yang ada perpustakaan nasional ini.

“Kalau arsipnya berwarna cokelat, pakai tisu jepang yang ini,” ujarnya, sembari memegang gulungan tisu jepang yang berwarna keruh.

Ada beberapa jenis tisu jepang yang digunakan dalam perawatan arsip. Itu disesuiakan dengan kondisi dan warna arsip yang butuh pemeliharaan.

Secara teknis, penggunaan bahan impor ini tidak membutuhkan trik khusus. Lembaran arsip rusak yang sudah dibersihkan, diolesi dengan lem untuk merekatkan tisu jepang. Berikutnya, arsip yang sudah terlapisi tisu jepang kembali dilem agar lebih kuat dan awet.

Untuk proses ini, Rosalia biasanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit. Namun, bagi orang awam, proses ini kemungkinan lebih lama. Sebab, dalam prosesnya membutuhkan ketelitian dan kesabaran agar tidak ada lipatan tisu jepang yang nanti menyulikan saat arsip atau dokumen tersebut dibaca.

Meski begitu, bukan berarti proses pemeliharaan rampung. Setidaknya butuh waktu sehari semalam untuk memastikan arsip tersebut kering. Itu untuk menghindari agar dokumen atau arsip ini tidak menempel saat nanti disimpan.

Sejak 2006 silam, warga Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, ini menghabiskan hari-harinya dengan merawat koleksi perpustakaan. Dari pengalamannya selama ini, buku justru yang paling banyak membutuhkn perawatan. “Rata-rata dalam sebulan itu ada sekitar 1.500 buku yang membutuhkan perhatian,” katanya.

Kasusnya bermacam-macam. Selain penjilidan yang terlepas, ada banyak kasus sampul yang rusak atau sobek. Parahnya lagi, untuk mengantisipasi agar robekan tidak parah, biasanya peminjam menggunakan lakban atau isolasi. “Jangan pakai lakban, karena lem pada lakban justru bisa merusak cover atau sampul,” tuturnya.

Untuk meminimalisasi kerusakan, biasanya para pustakawan membutuhkan penanganan yang sedikit khusus. Dengan beberapa alat semisal hair dryer untuk melepaskan lakban tersebut.

“Pada kondisi tertentu kami harus buatkan cover yang baru. Karena memang tidak bisa diselamatkan lagi,” terangnya.

Untuk masalah penjilidan yang terlepas, penanganannya lebih mudah. Yakni, dengan mengoleskan lem pada pangkal lembaran kertas tersebut. Kemudian untuk kasus halaman buku yang sobek, Rosalia biasanya mengkopi buku lain, kemudian menempelkannya pada halaman yang rusak atau sobek tersebut.

Kasus penjilidan yang lepas ini cukup banyak terjadi pada buku terbitan anyar. Dia tidak menjelaskan spesifik penyebabnya. Hanya menduga karena kualitas bahan yang digunakan untuk membuat buku tersebut sudah menurun.

Menurutnya, selain bahan, ada banyak faktor yang bisa mengakibatkan arsip atau buku cepat rusak. Misalnya, karena lokasi penyimpanan yang tidak tepat.

Karena alasan ini pula, penempatan atau penyimpanan arsip dan buku di perpustakaan menjadi prioritas bagi pustakawan. “Suhunya harus diatur, tidak boleh terlalu panas. Kalau suhu terlalu tinggi, kertas itu jadi rapuh. Sejalan dengan itu, kalau kondisinya terlalu lembap juga memicu jamur,” katanya.

Bagi para pustakawan, buku merupakan benda yang sangat berharga. Pembersihan rutin tiap bulan harus dilakukan. Secara berkala, kadar keasaman pada kertas juga harus dicek. Usut punya usut, hal ini karena kadar asam tinggi bisa mengubah warna buku. “Jadi ini bukan karena kertasnya warna cokelat, tapi karena terlalu asam sehingga warna kertasnya menjadi cokelat,” ucapnya, sembari menunjukkan arsip cetakan tahun 60-an yang menumpuk di mejanya.

Beberapa dekade silam, banyak dokumen yang dijepit atau disatukan mengunakan stapler agar tidak tercecer. Sebenarnya, niat menggunakan benda tesebut tidak buruk. Namun, jika terlalu lama dibiarkan tanpa perawatan juga tidak baik untuk arsip atau dokumen tersebut. Sebab, lambat laun material berbahan metal tersebut akan mengalami korosi dan membuat dokumen atau arsip rusak. “Selain itu, arsipnya juga pasti berlubang,” tandasnya. (*/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni
#perbaiki arsip #perpustakaan proklamator bung karno blitar #buku perpustakaan bung karno #perbaiki buku #rawat buku perpustakaan bung karno