Saat momen Lebaran lalu, harga telur berkisar Rp 24 ribu per kilogram. Namun, kini mencapai sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 34 ribu per kilogramnya. Kenaikan harga tersebut membuat para pelaku usaha makanan khususnya produsen kue merasa resah.
“Telur kan salah satu bahan dasar pembuatan produk yang saya jual,” ujar pelaku usaha bronis Asabella Berliandinie, kemarin (18/5).
Warga Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo, ini mengaku enggan menaikkan harga. Dia khawatir hal itu bisa mengecewakan pelangan. Namun, jika memang semua bahan baku produksi mahal, Abel –sapaannya- dengan paksa menaikkan harga produk.
Untuk sementara masih ada alternatif. Yakni, dengan menggunakan harga telur yang lebih rendah. Dengan begitu, masih ada keuntungan tanpa harus mengubah atau menaikkan harga produk.
“Selama berbisnis kue, saya pernah satu kali menaikkan harga produk karena harga bahan pembuatannya yang naik dan pelanggan tidak merasa keberatan,” ujar pengusaha muda itu.
Abel mengaku memaksimalkan kualitas produk ketika menaikkan harga. Tujuannya tak lain agar pelanggan tidak kecewa. Denga kata lain, kualitas produk yang dibeli sebanding dengan uang yang mereka keluarkan.
Hal senada diungkapkan Melisa Ayu, pelaku usaha bakery di Desa Slorok, Kecamatan Garum. Dia mengungkapkan, kenaikan harga telur berpengaruh pada keuntungan yang dihasilkan. “Usaha memang tetap berjalan normal seperti biasa. Karena meskipun harga telur mahal, stok barangnya melimpah. Hanya, keuntungan yang didapat lebih sedikit.” ungkapnya.
Perempuan paro baya ini mengaku tidak menaikkan harga produk yang dijual selama harga telur masih di bawah Rp 50 ribu. Dia membuat beberapa varisasi kemasan kue dengan harga yang berbeda. “Biasanya saya beri pilihan dengan ukuran yang lebih kecil. Jika kue dengan kemasan 500 gram harganya Rp 120 ribu, maka saya juga menjual kue dengan kemasan 200 gram dengan harga Rp 55 ribu,” pungkasnya. (mg1/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni