Perempuan asal Desa Lorejo, Kecamatan Bakung, ini mengatakan bahwa pemuda saat ini banyak yang kreatif. Bahkan, tak sedikit gagasan dan ide dari kaum milenial yang menjadi inspirasi para pemuda lain. “Itu yang memang harus dilakukan pemuda saat ini. Banyak sarana pendukung, terlebih di era ini perkembangan teknologi yang semakin canggih ini,” ujar perempuan berparas ayu ini.
Menurutnya, pemuda bisa menerapkan prinsip ATM, yakni amati, tiru, dan modifikasi. Dengan catatan, tidak meninggalkan nilai tradisi, kebudayaan, atau kearifan lokal. “Sehingga ada ciri khas sebagai branding diri tanpa melupakan tradisi,” katanya.
Perempuan 22 tahun ini sedang menekuni seni tari. Tari tradisional menjadi fokusnya. Baginya, seni olah tubuh itu dapat mengeksplorasi diri sekaligus ambil bagian dalam berkebudayaan. Meskipun tak jarang orang menganggap tari tradisional sebagai budaya jaman dulu (jadul). “Menurut saya itu bukan kuno, tapi klasik,” tuturnya.
Menari telah menjadi rutinitas sehari-hari Sinta. Bahkan, dia telah menjadi pelatih tari di salah satu sanggar ternama di Bumi Penataran. Habit tersebut dilakukan untuk melestarikan budaya tarian tradisional. “Melatih anak menari tradisional, bisa mengajarkan budaya tari yang elegan dan mewah,” terang anak sulung dari dua bersaudara ini.
Baginya, melestarikan budaya adalah kewajiban, utamanya para pemuda. Sebab, pemuda menjadi penerus generasi bangsa. “Jadi, saya berusaha untuk melestarikan tari tradisional ini ke anak-anak,” paparnya dengan ramah.
Sinta mengatakan, pengembangan sumber daya manusia pemuda dapat dimulai dari diri sendiri. Misalnya dengan meng-upgrade diri untuk meningkatkan value. Akan tetapi, harus tetap waspada. Sebab, tak sedikit tren luar yang membuat latah atau ikut-ikutan. “Akibatnya bisa menjadi boomerang jika tidak mampu mengontrol dan menyadari potensi yang dimiliki,” ungkapnya.
Menurutnya, mengembangkan potensi di era milenial tidaklah mudah. Hal tersebut karena teknlogi juga memicu banyak motivasi dan keinginan yang dapat menghambat pengembangan diri. Untuk itu, perlu penguatan niat dan konsisten menjalani semangat positif yang sebelumnya sudah direncanakan. “Habit ini dapat dicoba, minimal dalam lingkungan sekitar,” tandasnya. (tan/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni