“Saya sering ke sini sama anak-anak. Bisa santai-santai, kan tempatnya sejuk, luas. Anak-anak bisa bebas bermain,” ujar Sundari, pengunjung asal Srengat.
Menurutnya, wana wisata yang dikenal dengan Kesambi Trees Park ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga bisa menjadi fasilitas edukasi utamanya bagi anak-anak. Karena itu, pihaknya berharap koleksi hewan yang ada di wana wisata ini ditambah. “Jadi selain untuk mengenalkan hewan, juga mendekatkan anak-anak pada alam,” terangnya.
Wisata di Desa Jatilengger, Kecamatan Ponggok, ini memiliki sekitar 97 rusa. Terdiri dari 37 pejantan, 32 betina, dan 28 anakan. Padahal, awalnya hanya sekitar 18 ekor rusa yang dipelihara di lokasi tersebut. Hal ini menjadi indikasi upaya konservasi cukup berhasil. “Dalam satu hari biasanya butuh sekitar 6 kuintal rumput, belum termasuk makanan tambahan seperti singkong,” ujar salah seorang pengelola wisata Kesambi Trees Park, Harianto.
Dia mengungkapkan, rerata pengunjung per hari sekitar 50 orang. Kunjungan semakin banyak saaat weekend alias Sabtu-Minggu. Bahkan, saat momen hari-hari libur bisa mencapai 2-3 kali lipat. “ Apalagi kalau ada acara tertentu, jumlahnya lebih banyak lagi,” imbuhnya.
Kendati demikian, pria ramah itu mengungkapkan bahwa wana wisata ini juga sepi pengunjung. Misalnya saat bulan Ramadan. Bahkan, pernah juga tutup total sehingga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan operasional pemeliharaan. “Pernah tutup total ketika pandemi. Itu minusnya karena pendapatan otomatis berkurang, sedangkan perawatan rusa setiap hari harus dilakukan,” tuturnya.
Sebanyak 30 petugas dikerahkan untuk merawat dan mengelola wisata alam ini, termasuk pengelola, penjual makanan, satpam, dan tukang parkir. Semua pekerja diambil dari paguyuban warga sekitar. “Tujuannya ya jelas untuk menambah pendapatan mereka. Memberikan peluang pekerjaan.” katanya.
Harianto menambahkan, dalam merawat rusa yang harus diperhatikah adalah ketika musim kawin. Ketika birahi, rusa jantan akan saling berkelahi untuk mencari rusa betina. Hal itu akan membahayakan, mengingat rusa memiliki beberapa tanduk yang lancip. “Cara mengatasinya ya sebisa mungkin dipisah. Kan berbahaya kalau kena tanduknya. Bisa mati kalau ada yang kena tubuh,” imbuhnya.
Untuk mengatasi situasi tersebut, Harianto juga mengungkapkan bahwa pihak pengelola sudah bekerja sama untuk merawat rusa-rusa itu. Setiap bulan selalu ada pemeriksaan dan pemberian vitamin. (mg2/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni