Sejak 2012, Micky menggeluti usaha batik. Dia mulai mengenal seni batik sejak duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK). Kala itu, dia masuk jurusan seni kriya sehingga tidak jauh dari materi tentang membatik.
Bahkan, dia mendapat tugas sekolah untuk praktik kerja lapangan (PKL) selama 6 bulan di Jogjakarta. Di sanalah, warga Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo, ini mulai belajar membatik langsung dari senimannya. Dia semakin tahu tata cara membatik dari tahap awal hingga akhir. ”Ilmu membatik itu saya praktikan dan pelajari terus-menerus. Kemudian saya kembangkan untuk usaha batik di Kota Blitar sampai sekarang,” ungkapnya kepada koran ini, kemarin (21/5).
Berbagai motif batik telah dia kembangkan, terutama motif khas Kota Blitar. Seperti motif koi, kembang turi, hingga kendang sentul. Semua motif yang dikembangkan tersebut berkaitan erat dengan kearifan lokal. “Tema yang saya angkat dalam motif batik, salah satunya tentang sejarah. Seperti yang sudah saya kembangkan, berupa batik tutur kebun kopi Karanganyar dan motif bubuksah gagakaking dari relief Candi Penataran, dan masih ada beberapa motif lainnya,” aku pria 35 tahun ini.
Nah, salah satu motif baru yang sedang dikembangkan adalah barongan kucingan. Untuk diketahui, barongan kucingan merupakan salah satu seni tari khas Kota Blitar. Beberapa waktu lalu, kesenian tersebut berhasil memecahkan rekor MURI. Rekor itu diberikan setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dan sejumlah seniman dan budayawan sukses menyajikan tarian bergilir dengan peserta terbanyak, yakni 1.117 barongan kucingan.
Micky mulai mengembangkan motif batik tersebut pada 2022 lalu. Awalnya, dia menerima pesanan berupa udeng dan sampur dari salah satu paguyuban jaranan di Kota Blitar. Dua barang tersebut akan digunakan untuk tampil di suatu acara kesenian jaranan. “Saat itu, saya bertanya, motif apa yang khas dari setiap kesenian jaranan di Kelurahan Blitar, mereka menjawab barongan kucingan,” tuturnya.
Dari situlah muncul ide untuk membuat motif barongan kucingan khas Kota Blitar. Seperti diketahui, hampir di setiap event daerah menampilkan tarian barongan kucingan. Untuk membuat motif tersebut, saat itu Micky harus berkonsultasi terlebih dulu dengan seniman tari jaranan. Menentukan desain barongan kucingan yang khas Kota Blitar.
Berjalannya waktu, tak sedikit orang yang berminat memesan batik dengan motif barongan kucingan. Antusiasmenya cukup tinggi karena tergolong motif baru. Kebetulan ada salah satu instansi pemerintahan Kota Blitar yang tertarik memesan batik dengan motif tersebut.
Micky pun berusaha untuk mengembangkan motif barongan kucingan agar lebih menarik. Dengan begitu, banyak variasi desain motif yang bisa dipilih oleh konsumen. “Inovasi yang saya lakukan yaitu memadukan motif barongan kucingan dengan ornamen lain yang ada di Blitar,” terang pria ramah ini.
Untuk membuat batik barongan kucingan tak berbeda jauh dengan batik motif lainnya. Khusus batik barongan kucingan menggunakan teknik batik tulis, sedangkan untuk perwarnaan menggunakan dua teknik, yakni colet dan celup. “Untuk colet, saya gunakan pada motif utama barongan kucingan. Lalu, pada ornamen menggunakan teknik celup,” bebernya.
Melalui batik barongan kucingan, Micky ingin turut mengenalkan kesenian barongan kucingan secara luas. Tak sekadar dikenal lokal, tetapi bisa nasional hingga internasional. ”Saya berharap ketika ada event-event berskala nasional dan internasional, batik barongan kucingan ini bisa dikenalkan. Menegaskan bahwa Kota Blitar memiliki kesenian khas Barongan kucingan,” tandasnya. (*/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni