“Sekarang sepi, ndak seperti dulu.” Ungkap Winarti salah satu pedagang pakaian di Pasar Srengat.
Ia menceritakan pasar mulai sepi sejak dua tahun terakhir. Menurutnya, orang-orang saat ini lebih memilih membeli barang-barang kebutuhan secara online. Sebab, pembeli bisa mendapatkan barang tanpa harus datang ke pasar atau toko.
“Sekarang zamannya sudah berubah. Tanpa harus keluar rumah barang udah datang, iya kan?.” tururnya.
Tak hanya, banyak pedagang di Pasar Srengat yang kini memutuskan berhenti berjualan. Mereka memilih menjadi TKI ke luar negeri karena pendapatan dari berdagang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Perempuan berhijab itu mengluhkan kondisi pasar yang sepi tersebut. Pasalnya tidak setiap hari ada pembeli. Bahkan, tak jarang hanya satu pelanggan yang mampir ke lapaknya dalam satu hari. Momen Ramadan dan Idul Fitri beberapa waktu lalu juga tidak membawa perubahan yang signifikan.
“Pernah tidak ada pelanggan sama sekali. Padahal sudah membuka lapak dari jam 8 pagi sampai 2 siang,”keluhnya.
Kendati begitu, Winarti memutuskan untuk tetap bertahan. Sebab, lapak di Pasar Srengat ini menjadi sumber pendapatan keluarga satu satunya. “Ya mau gimana lagi, keadaannya seperti ini. Kalau ndak jualan dapat uang dari mana.” ucapnya dengan suara lirih.
Hal serupa juga dirasakan Rima pedagang sandal dan sepatu di Pasar Srengat. Dia mengaku omzet penjualannya terus mengalami penurunan.
Sebelum lebaran atau memasuki tahun ajaran baru, biasanya kios ramai diburu pembeli. Namun, kini berbebda. Tak setiap hari wanita berambut pendek itu mendapat pelanggan. Dia mengungkapkan, hal ini terjadi sejak pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
“Semenjak pandemi pembeli jadi sepi. Pedagang juga banyak yang berhenti jualan. Dulu sampai sore masih ramai, sekarang dari pagi sampai mau tutup juga sepi.” ungkapnya.
Hal itu dibenarkan pengelola Pasar Srengat. Parahnya lagi, kini banyaknya aktivitas jual beli di luar pasar yang mengakibatkan kios menjadi kian sepi.
“Sudah pernah lapor. Tapi memang belum ada tindak lanjut dari atasan.” Ucap seorang petugas Pasar Srengat, Ribut Muhaimin.
Menurutnya, bukan perkara mudah untuk mengembalikan kondisi Pasar Srengat yang ramai. Hal ini tidak lepas dari perkembangan zaman yang kian maju. Kendati begitu, Ribut berjanji akan terus berusaha untuk menerima dan mengusulkan keresahan yang dialami para pedagang kepada pemerintah daerah.
“Kami akan terus mengupayakan. Tapi memang prosesnya bertahap. Kuncinya ya sabar, semoga segera ada kepastian dan tindak lanjut.” Imbuhnya
Selain itu, pihak pengelola juga merencanakan pemindahan para pedagang di area luar Pasar Srengat agar mau berjualan di bagian dalam. Tujuannya untuk mengisi kios-kios yang kosong sekaligus menertibkan pedagang. Sayangnya, niat baik ini juga sulit direalisasikan lantaran banyak pedagang yang menolak untuk pindah.
Dia mengaku pernah melakukan penertiban dan memasukkan pedagang yang ada di luar pasar. Namun, hal itu hanya bertahan selama beberapa minggu. Saat ini hampir sebagian kios kosong dari total keseluruhan 140 kios.
“Kendalanya banyak pedagang yang tidak mau pindah. Alasannya karena sudah nyaman. Takut pelanggannya kebingungan mencari kalau pindah ke dalam.”pungkasnya. (mg2/hai) Editor : Endah Sriwahyuni