Puluhan kreasi tas tali kur dan anyaman plastik menyambut pengunjung galeri milik Alfiatun Ni’mah, warga Desa Kandangan, Kecamatan Srengat. Tas dengan berbagai macam bentuk dan warna itu memanjakan mata kaum hawa.
Aksesori di galeri ini hanya memanfaatkan tali kur yang dirajut atau dianyam menjadi produk yang multifungsi dan unik. Biasanya ditambah aksesori sesuai dengan kebutuhan dan permintaan konsumen.
“Proses pengerjaannya disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan motif. Satu tas biasanya membutuhkan waktu 1 minggu, 4-5 hari untuk proses pengerjaan, 2 hari untuk finishing dan packaging,” ujar Alfi.
Bisnis yang digeluti sejak 2012 ini awalnya hanyalah keisengan belaka. Sebelum merintis karir di bidang kerajinan, ibu dua anak itu menjalankan bisnis fashion dan produk kecantikan.
Namun, nasibnya berubah setelah mengenal kerajinaan tali kur dari salah satu temannya. Siapa sangka, tas rajut dari tali kur buatannya mendapat respons yang bagus dari pasar. Bahkan, lambat laun pesanan dalam jumlah banyak sering berdatangan. Kesempatan ini tentu tak dilewatkan oleh Alfi untuk menjadikan kreasi tali kur menjadi pundi-pundi rupiah.
Perjalanan usaha Alfi tidak dirintis di Bumi Penataran, tetapi di Kabupaten Malang. Setelah berkembang selama 3 tahun di Kota Pendidikan ini, dia lantas memberanikan diriuntuk ekspansi bisnis di daerah kelahirannya, Kabupaten Blitar.
Memulai bisnis di daerah baru tentu tidak mudah. Tantangan utama ada pada pekerja dan bagaimana mengenalkan kerajinan tali kur di pasar yang baru. Beruntung, berkat kegigihannya, hal ini bisa dilalui dengan baik. Bahkan, dia kini memiliki setidaknya 43 orang karyawan yang membantunya memproduksi kerajinan dari tali kur. “Sengaja pilih ibu-ibu dari sekitar rumah, agar mereka bisa mengisi waktu luang mereka dengan kegitan positif dan bisa menambah penghasilan,” terangnya.
Selain tas, kreasi tali kur lainnya berupa dompet, ikat pinggang, sandal. Namun, yang menjadi best seller adalah dompet dan tas dengan bentuk dan motif yang berbeda-beda. Kini tak kurang dari 78 motif yang dia miliki.
Produk tali kur cukup sukses meraih hati masyarakat. Bahkan, dia sudah memiliki peminat dari luar negeri. Seperti, Singapura, Hongkong, dan Taiwan. Alfi mengaku bahwa awalnya hanya menawarkan produknya kepada teman dan keluarga yang menjadi WNI.
“Untuk pasar lokal, selain Blitar. peminatnya berasal dari Maluku, Riau, dan Kalimantan. Saat ini juga ada sekitar 11 orang reseller luar negeri dan 16 reseller lokal yang bergabung,”ungkapnya.
Karena banyak peminatnya. dia menambah kreasi berupa tas anyaman di tahun 2021. Menurutnya, tas anyaman plastik juga memiliki peluang besar. Terutama di Blitar yang masih kental dengan tradisi hajatan, tasyakuran, atau sekadar wadah belanjaan.
Selama menggeluti bisnis kerajinan, ada pengalaman yang tak mungkin dilupakan Alfi. Yakni, saat produknya dipakai atau diminati oleh seorang artis tanah air. Baginya, hal ini merupakan suatu yang luar biasa lantaran momen itu terjadi ketika awal- awal memulai usaha. “Saat itu ikut event di Surabaya. Kebetulan salah satu tamu undangan adalah artis Venna Melinda. Ada banyak barang yang saya bawa, tapi beliau malah pilih tas yang sudah saya pakai. Ada dua yang dibeli waktu itu,” kenangnya.
Dari pengalaman-pengalaman ini, bisnis Alfi kian moncer. Pesanan berdatangan. Bahkan, suatu ketika dia pernah diminta membuat sekitar 500 dompet tali kur dari mabes TNI sebagai suvenir untuk HUT TNI.
Selama merintis karir, kendala terbesarnya adalah soal tenaga kerja. Karena keluar masuk karyawan, kadang proses produksi sedikit terhambat.
“Seperti tambal sulam ya. Kadang ada yang menikah atau cuti hamil terus keluar. Kan eman-eman, apalagi ketika ada banyak orderan,” pungkasnya. (*/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni