Itu merupakan festival 1.000 lengkong yang digelar pihak kelurahan bersama masyarakat setempat. Yakni di sepanjang Jalan Pamungkur, ini merupakan giat rutin.
Lurah Balitar, Titik Kristiani mengatakan, festival lengkong sebagai tradisi budaya yang harus dilestarikan. Ini agar tidak hilang tergerus zaman. Terlebih kini banyak orang yang lebih memilih hal instan. “Dengan serangkaian acara Festival Lengkong diharapkan dapat mengingatkan masyarakat terhadap tradisi yang ada. Ada tradisi leluhur yang harus dilestarikan,” ujarnya.
Wanita ramah itu menambahkan Festival Lengkong merupakan simbol keharmonisan, kebersamaan, dan keutuhan warga Kelurahan Blitar. Kebersamaan tersebut dilihat dari proses pembuatan Lengkong. Warga bergotong-royong membuat Lengkong. Makan bersama dalam satu wadah dan saling berbagi. “Kenikmatannya waktu makan bersama-sama. Saling berbagi lauk, tanpa piring dan sendok, jadi satu di wadah Lengkong,” jelasnya.
Seperti diketahui, lengkong merupakan wadah makanan tradisional terbuat dari pelepah pohon pisang. Pelepah pohon tersebut dirangkai berbentuk persegi empat. Isiannya beragam. di antaranya, nasi, lauk ayam, sambal goreng, serundeng, dan urap-urap. Untuk nasi bisa berupa nasi putih atau nasi kuning.
Asmangir, warga setempat mengaku antusias menyambut festival tersebut. Sejak pagi ibu-ibu berkumpul membuat lengkong. “Dari pagi-pagi sekali Ibu-ibu sudah repot memasak dan membuat lengkong. Acara ini diharapkan dapat mempererat hubungan persaudaraan sesama warga,” tandasnya. (apr/mg1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni