Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bupati Blitar dan Gubernur Jatim Panen Raya Padi Aplikasi Biosaka di Blitar

Endah Sriwahyuni • Minggu, 28 Mei 2023 | 22:54 WIB
PENGALAMAN BARU: Gubernur Khofifah membuat elisitor biosaka bersama Bupati Rini. Bupati Rini mendampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa panen padi aplikasi biosaka di Desa Soso, Kecamatan Gandusari. (FOTO-FOTO: KOMINFO KABUPATEN BLITAR UNTUK RADA
PENGALAMAN BARU: Gubernur Khofifah membuat elisitor biosaka bersama Bupati Rini. Bupati Rini mendampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa panen padi aplikasi biosaka di Desa Soso, Kecamatan Gandusari. (FOTO-FOTO: KOMINFO KABUPATEN BLITAR UNTUK RADA
KABUPATEN BLITAR - Bupati Rini Syarifah mendampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (KIP) panen padi aplikasi biosaka di Desa Soso, Kecamatan Gandusari, kemarin (27/5). Gubernur berharap biosaka ini menjadi referensi untuk daerah lain dalam rangka meningkatkan produktivitas padi tanpa harus menggunakan pupuk kimiawi.

Tidak hanya panen padi, bersama Bupati, orang nomor satu di Jatim tersebut juga membuat sendiri elisitor yang selama ini membantu masyarakat dalam mengolah lahan pertanian. “Tahun 2002 kemarin, Pak Menteri Pertanian juga berkenan hadir, panen raya padi di Selopuro sangat bagus hasilnya,” kata Bupati Rini.

Mak Rini mengatakan, penggunaan biosaka di Bumi Penataran sudah cukup massif. Hanya, masih banyak masyarakat atau petani wilayah Jatim yang membutuhkan informasi mengenai aplikasi biosaka tersebut. “Alhamdulillah Ibu Gubernur berkenan hadir. Kami berharap beliau mendukung dan membantu, karena biosaka ini sangat membutuhkan perhatian Pemerintah Provinsi Jatim,” katanya.

Di lokasi yang sama, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa Jatim menjadi produsen tertinggi padi dan beras selama rentang 2022-2022 di antara provinsi lain. Saat ini, kata dia, pemerintah sedang melakukan penguatan produktivitas tersebut, tapi dengan metode yang ramah lingkungan. “Itu harus menggunakan pupuk nonkimiawi agar lebih maksimal,” ujarnya.

Gubernur juga mengapresiasi pemerintah daerah dan petani yang selama ini memanfaatkan formula biosaka yang tidak menggunakan bahan kimia tersebut. Menurutnya, hal ini bisa menjadi referensi daerah lain. Sebab, produktivitas pertanian tetap terjaga sekaligus mengembalikan fungsi lahan tanpa menggunakan pupuk kimia. “Tadi disampaikan ada sekitar 11 ribu hectare. Tentu kita berharap ini menjadi referensi bagi daerah lain di Jatim. Saya lihat sudah banyak yang menggunakan biosaka, tapi jika lebih masif akan lebih baik lagi, karena kecenderungan tanah kita saat ini makin jenuh,” tuturnya.

KIP menjelaskan, fakta lahan pertanian yang semakin jenuh tersebut membuat biaya produksi pertanian semakin mahal. Sebab, penggunaan pupuk kimia akan terus mengalami peningkatan setiap kali mengolah lahan tersebut. “Dengan konversi bahkan substitusi pupuk kimiawi menjadi pupuk nonkimiawi, ini akan menjadi good news. Karena ketahanan padi tehadap hama semakin baik, tanah mengalami revitalisasi, dan berasnya juga makin pulen. Jadi, sangat banyak keunggulan ketika menggunakan aplikasi biosaka karya warga Blitar ini,” jelas dia.

Pihaknya berharap temuan ini juga diaplikasikan oleh petani lain. Sebab, proses pembuatan formulanya juga sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan daun sudah bisa menjadi substitusi alias pengganti dari penggunaan pupuk kimia. (hai/c1)

  Editor : Endah Sriwahyuni
#panen padi #padi blitar #genjot produksi padi #biosaka padi #aplikasi biosaka #produksi padi