Warga setempat, Suparman, mengaku sejak dua hari terakhir kesulitan mendapatkan air bersih. Menurutnya, ketersediaan air di sumur perlahan surut seiring berkurangnya debit aliran sungai atau Kali Lekso. Kondisi ini terjadi setelah adanya kegiatan perbaikan dam. Warga berharap pemerintah bisa dengan sigap mendistribusikan air untuk keperluan setiap hari. “Kalau nanti perbaikan dam sudah selesai, sungai harus segera mengalir seperti dulu,” katanya, Minggu (28/5).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar Ivong Berttyanto mengamini bahwa dalam beberapa hari terakhir terdapat aktivitas perbaikan Dam Susukan Kali Lekso. Dam tersebut sebelumnya rusak lantaran tidak mampu menampung derasnya debit air yang terjadi pada bulan lalu. Alhasil, aliran Kali Lekso pun terpaksa diminimalisasi guna menunjang perbaikan dam.
“Mengering mulai Sabtu (27/5). Karena perbaikan itu, aliran Kali Lekso tidak bisa mengalir sehingga mengakibatkan sumur warga mengering,” ujarnya.
BPBD mencatat, tak sedikit kepala keluarga (KK) yang kini kesulitan air bersih karena kondisi sumur yang mengering tersebut. Dua dusun di Desa Jambewangi yakni Dusun Wonorejo dan Dusun Sumberejo paling dominan. Hingga kemarin malam, sebanyak 360 KK melaporkan kekurangan air.
Ivong mengaku kondisi kekeringan itu di luar prediksinya. Sebab, aliran Kali Lekso yang mengarah ke selatan ditutup sehingga itu murni karena adanya aktivitas perbaikan dam. Selain itu, jika menilik perkembangan cuaca, bulan ini Bumi Penataran memang memasuki musim kemarau. Namun, dampaknya tidak akan langsung kentara. “Asesmen kami memang dua dusun di Desa Jambewangi itu kekeringannya agak parah. Karena letak sumur itu sebagian besar ada di tepi aliran Kali Lekso,” imbuhnya.
Pria berkacamata itu menambahkan, personel BPBD telah terjun ke lokasi terdampak untuk memonitor keadaan sumur, sekaligus mendistribusikan tandon berisi air 1.200 liter. Beberapa titik di dua dusun itu telah menerima kiriman air tersebut. “Rata-rata warga punya stok tandon air sekitar 50 liter. Sebagian mengaku itu belum mencukupi keperluan sehari-hari. Sehingga kami dropping,” tuturnya.
Adapun perbaikan Dam Susukan kemarin malam telah rampung. Namun, baru sekira sepekan ke depan air aliran Kali Lekso bisa dialirkan kembali lantaran menunggu bangunan kokoh. BPBD mengimbau masyarakat segera melapor bilamana kesulitan mengakses air bersih. “Sesuai permintaan, tidak tentu jam berapa mereka minta. Yang jelas, kami siap 24 jam,” tandasnya.
Sekadar diketahui, Kabupaten Blitar bukan daerah yang asing dengan kondisi kekeringan. Bahkan, kekeringan ekstrem pernah terjadi di Blitar Selatan pada 2019 lalu dampak kemarau panjang. Selain itu, BPBD memetakan terdapat tujuh kecamatan yang jadi langganan krisis air. Yakni, Kecamatan Binangun, Kecamatan Wates, Kecamatan Panggungrejo, Kecamatan Wonotirto, Kecamatan Bakung, Kecamatan Sutojayan, dan Kecamatan Kademangan. (luk/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni