Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengelola Panti dan Pondok Lansia di Kabupaten Blitar, Ini Kisahnya

Endah Sriwahyuni • Selasa, 30 Mei 2023 | 21:30 WIB
NELANGSA: Sejumlah lansia sedang bersantai di Panti Lansia, Talun, kemarin (29/5). (JIHAN WAHIDA RAHMA SALSABILA/RADAR BLITAR)
NELANGSA: Sejumlah lansia sedang bersantai di Panti Lansia, Talun, kemarin (29/5). (JIHAN WAHIDA RAHMA SALSABILA/RADAR BLITAR)
KABUPATEN BLITAR - Menikmati masa tua menjadi mimpi mayoritas orang. Namun, garis nasib kadang memiliki cerita berbeda. Untungnya, masih ada yang memiliki empati dan berkenan mengulurkan tangan. Dengan begitu, para lanjut usia (lansia) tidak sampai keleleran di jalanan.

Sejak 2010, Handayah warga Desa Kendalrejo Kecamatan Talun memiliki kegiatan anyar. Yakni merawat lansia yang tidak keruan keluarga atau tempat tinggalnya.

Tak ada rencana apalagi cita-cita ngurusi lansia dibenak Handayah. Hanya, secara kebetulan belasan tahun lalu dia melihat sorang perempuan dengan enam orang anak yang masih kecil. Ironisnya kondisi ekonominya minim dan baru saja ditinggal mati sang suami. Karena tidak tega, Handayah lantas mengajak mereka tinggal di rumahnya. “Rumah saya memang biasa digunakan untuk ngaji anak-anak dan para lansia,” katanya saat membantu pekerjaan di dapur Panti Lansia, Talun, kemarin (29/5).

Sedikitnya ada 50 lansia yang kini tinggal di panti tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari Blitar Raya. Bahkan, ada juga dari Sulawesi, Lampung dan Bali. Rata-rata mereka dibawa oleh komunitas peduli. “Ada juga keluarga yang sengaja menitipkan karena kesulitan merawat di rumah,” terangnya.

Di panti ini, Handayah memerlakukan mereka seperti saudara sendiri. Dia juga sadar merawat lansia jelas memiliki banyak tantangan dan kendala. Sebab, perawatan tidak cukup dengan memenuhi kebutuhan perut. Bahkan, bersih diri juga menjadi bagian rutinitas yang tetap harus dijalani setiap hari. “Serunya itu karena mereka lansia, jadi banyak yang pikun,” kantanya diiringi senyum kecil.

Selama ini Handayah tidak sendiri. Dia dibantu oleh enam anaknya dalam merawat lansia tersebut. Dia juga kerap mendapatkan dukungan dari warga sekitar. Misalnya dalam bentuk donasi. Kendati begitu, sudah menjadi kewajiban baginya untuk siap merogoh kocek pribadi untuk kegiatan sosial ini. “Nggak pernah minta sumbangan, tapi ya Alhamdulillah ada saja orang-orang yang mau berbagi,” ungkapnya.

Jika ada salah satu lansia yang meninggal dunia, Handayah juga merawatnya seperti memandikan, mengkafani, dan mensalatinya.

Di Wilayah Kecamatan Srengat, juga ada sosok yang mirip dengan Handayah, dia adalah Muhammad Ma’arif. Bedanya, Ma’arif mendirikan pondok lansia khusus laki-laki.

Kegiatan merawat lansia ini dilakukan Ma’arif belum lama, sekitar 2018 lalu. Pemicunya adalah postingan di media sosial yang menampilkan sosok lansia terlantar di jalanan. Tak tega dengan hal itu, Ma’arif lantas membawa pulang lansia tersebut. “Karena ada dukungan dari keluarga, akhirnya saya rawat lansia itu,” terangnya kepada Koran ini.

Memanfaakan lahan sempit di samping rumahnya, Ma’arif tidak hanya bersedia merawat lansia. Orang dengan gangguan kejiawaan juga diterima di Pondok Lansia Baitul Miftahul Jannah ini. Tercatat, ada 24 lansia dan 10 pasien ODGJ di pondok tersebut.

“Semuanya laki-laki. Karena yang mengurus hanya saya dan anak laki-laki saya. Ada juga relawan lain dari tetangga sekitar,” ujarnya.

Ma’arif menambahkan, mengurus semua lansia dan odgj hanya mengandalkan keluarga dan relawan. Termasuk masalah kesehatan dan makanan. Hal tersebut menjadi salah satu kendala dalam merawat lansia. Sebab selama ini Ma’arif hanya mengandalkan donasi dari para donatur. Tak jarang tetangga sekitar memberikan hasil panen seperti sayur atau kebutuhan pokok lainnya.

“Terus terang belum berani mempekerjakan, karena semua pengeluaran kita hanya mengandalkan dari donatur. Jadi kalau ada yang membantu monggo, kami menerima dengan senang hati,” ungkapnya

Mayoritas lansia dan odgj di pondoknya tersebut berasal dari luar kota, seperti Kediri, Trenggalek, Lumajang, dan Jember. Informasi keberadaan lansia yang terlantar didapatkan dari relawan maupun Dinas Sosial terkait. “Kalau ada panggilan kita jemput, asalkan masih terjangkau dan benar-benar tidak ada yang mengurus,” ujar dia.

Ma’arif mengaku para lansia dan odgj yang menghuni pondoknya sebagian besar sengaja ditelantarkan oleh keluarga dengan berbagai alasan. Menurutnya paling sering dengan alasan ekonomi. “Mereka tidak mampu merawat akhirnya dipasrahkan ke kami. Malah ada lansia yang tidak mau pulang di bawa pulang keluarganya,” ungkapnya.

Terkait kesehatan, Ma’arif mengaku sudah bekerjasama dengan pihak puskesmas setempat. Pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan satu kali dalam satu bulan. Apabila ada yang memerlukan perawatan khusus, pihaknya juga sudah bekerjasama dengan RSUD Srengat untuk pemeriksaan lanjutan. “Satu bulan sekali ada pemeriksaan rutin dari puskesmas, setiap hari Sabtu di Minggu ketiga,” katanya

Selain pemeriksaan rutin, Ma’arif mengaku memberikan pembekalan rohani kepada para lansia setiap malam jumat. Pembekalan tersebut berupa mengaji dan tahlil bersama.

“Biasanya setiap malam jumat saya ajak mengaji, ya mendengarkan atau tidak kan juga tidak tahu, yang penting ada kegiatan positifnya,” tambahnya. (mg1/mg2/hai) Editor : Endah Sriwahyuni
#lansia blitar #pondok lansia #pondok lansia blitar