Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dikenal sebagai Tokoh Masyarakat, Aktif Bertani dan Beternak

Endah Sriwahyuni • Rabu, 31 Mei 2023 | 18:28 WIB
TUNGGU HASIL: Anak sulung Yanto, Erni, memberikan keterangan singkat kepada Jawa Pos Radar Blitar setelah menyaksikan otopsi jasad ayahnya. (MOCHAMMAD LUKI AZHARI/RADAR BLITAR)
TUNGGU HASIL: Anak sulung Yanto, Erni, memberikan keterangan singkat kepada Jawa Pos Radar Blitar setelah menyaksikan otopsi jasad ayahnya. (MOCHAMMAD LUKI AZHARI/RADAR BLITAR)
KABUPATEN BLITAR - Pensiunan TNI, Yanto, 58, warga Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, yang ditemukan tewas di rumahnya pada awal Mei lalu, menyisakan misteri di benak keluarga. Utamanya sang anak, Erni, 30, yang menilai kematian itu tak lumrah. Keluarga ingin mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Suasana tempat pemakaman umum (TPU) Kademangan, kemarin (30/5), tak seperti biasanya. Pesarean yang identik dengan kesan hening, sekejap menjadi riuh. Puluhan mobil dan motor berjubel di lapangan depan pintu masuk makam. Sebuah tenda berdiri di sudut utara makam.

Beberapa personel kepolisian turut menyekat warga yang hendak masuk ke area makam. “Ini ada otopsi jasad mantan TNI. Tapi tidak tahu pasti karena apa,” celetuk seorang warga di sekitar makam yang hanya mengamati dari kejauhan.

Tak berselang lama, sejumlah petugas yang tergabung dalam Tim Disaster Victim Identification (DVI) dengan kemeja biru gelap turun dari mobil. Dengan cepat, mereka menuju ke bawah tenda sembari membawa peralatan khusus yang dikemas dalam beberapa koper. Di tenda itu tampak warga sibuk membongkar sebuah makam. Tak tahu pasti bagaimana proses penggalian itu. Selain jarak pantau yang jauh, tenda juga dikelilingi kain.

Pembongkaran makam yang melibatkan desa setempat hingga rumah sakit (RS) Bhayangkara Kediri itu tak lain bagian dari proses otopsi. Tim medis membedah tubuh Yanto untuk mencari penyebab pasti kematian pensiunan TNI tersebut. Meski awal kematiannya tidak dipersoalkan, tetapi dari keluarga merasa ada yang janggal. Keluarga berambisi untuk mengungkap penyebab kematian tersebut. “Yang mendasari kami meminta tindakan otopsi karena ditemukan luka. Meninggalnya dalam keadaan tidak wajar,” kata Erni usai menyaksikan pembongkaran makam.

Saat diwawancara Koran ini, Erni dan suaminya, Didik, enggan memberikan keterangan. Bahkan, keduanya sempat menolak pertanyaan wartawan dan kembali ke lokasi pemakaman. Tak lama, Erni memilih untuk menjelaskan alasan otopsi yang diajukannya tersebut. Menurutnya, otopsi itu untuk mengungkap fakta di balik tewasnya Yanto.

Selama ini, Erni dan suaminya telah lama tinggal di Papua. Kebetulan, sang suami merupakan anggota Polri yang ditugaskan bekerja di Papua. Yanto, sang ayah, semasa hidupnya tinggal bersama saudara pengidap gangguan kejiwaan.

Kabar duka itu pun datang menerpa Erni. Ayah yang dikasihinya itu berpulang untuk selama-lamanya pada awal Mei. Namun, dia baru menerima kabar kematian itu seminggu pascapemakaman. “Entah kenapa, saat itu saya baru tahu informasinya hari ketujuh. Hari ini saya tahu, besoknya saya pulang. Lalu mengurus rencana otopsi tersebut,” tutur perempuan berjilbab ini.

Menurutnya, kondisi ayahnya saat hidup sangat sehat. Nyaris tak mengeluhkan sakit. Keterangan itu pula yang disampaikan kepada pihak berwenang agar segera dilakukan otopsi. Baginya, tak jadi masalah jika proses tersebut memakan waktu lama. Dia hanya berharap hasil tim medis tidak seperti apa yang dipikirkan.

Di mata keluarga, Yanto termasuk pribadi yang bersahaja bagi anak-anaknya. Almarhum, kata dia, juga tegas dan sabar dalam memberikan didikan. Aktivitasnya setiap hari yakni bertani serta mengelola ternak. “Semoga bapak tenang di sana, amal baiknya diterima dalam keadaan yang baik. Semoga hasilnya segera (keluar),” doanya.

Sementara itu, Kepala Desa Rejowinangun, Bhagas Wigasto menyatakan mengetahui kabar meninggalnya Yanto tersebut. Bahkan, dia ikut mengurus kematian pria 58 tahun tersebut hingga pemakaman. Praktis, dia mengetahui kondisi tubuh Yanto yang mengalami luka lebam di dada.

Menurutnya, Yanto termasuk pribadi yang aktif di setiap kegiatan masyarakat dan desa. Dia juga rukun dengan warga setempat. Terkait dengan proses otopsi, dia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang. “Beliau termasuk tokoh masyarakat. Semoga tetap diberi ketabahan untuk keluarga,” tandasnya. (*/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni
#bongkar makam #bongkar makam TNI blitar #pensiunan TNI ditemukan tewas di blitar #penyebab kematian pensiunan TNI blitar