Saat itu, berkebun menjadi hiburan utama, apalagi bagi ibu-ibu karena harus beraktivitas di rumah saja. Namun, kini kegiatan menanam bunga mulai ditinggalkan. Sepinya peminat berimbas pada harga jual tanaman hias yang semakin anjlok.
Salah satu penjual bunga hias di Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, Eko mengaku harga bunga merosot hingga 70 persen. Beberapa tanaman hias yang banyak diminati di antaranya janda bolong, aglaonema, hingga anggrek.
“Dulu yang pernah viral itu janda bolong. Harganya ada yang sampai jutaan. Sekarang cuma ratusan ribu,” ungkapnya, kemarin (31/5).
Menurut dia, aktivitas yang berangsur normal pascapandemi membuat tren tanamam hias mulai kehilangan peminatnya. Jika dulu banyak masyarakat yang membeli tanaman hias untuk mengisi kegiatan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), kini hanya pehobi tanaman hias. Imbasnya, omzet penjualan turun drastis hingga 50 persen. “Penikmatnya berkurang, jadi harganya anjlok,” ujarnya.
Selain itu, ada sejumlah bunga yang bisa diperbanyak melalui tunas. Otomatis, masyarakat bisa memperbanyak koleksi sendiri tanpa harus membeli lagi. Namun, ada salah satu tanaman yang harganya relatif stabil yakni anggrek. Sebab, anggrek masih banyak peminatnya.
Eko mengatakan, peminat tanaman hias tak hanya warga lokal, tetapi juga dari luar daerah. Seperti dari Tulungagung, Kediri, hingga Malang. “Pembelinya rata-rata warga luar daerah. Untuk penjualan tanaman tergantung dari apa yang dicari pasar, bisa aglaonema, Cladium, bunga Vinca dan jenis lainnya. Paling banyak anggrek,” tuturnya.
Harga tanaman hias bervariasi. Mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp 500 ribu untuk jenis aglonema. Kemudian, jenis Caladium Rp 20 ribu hingga Rp 1 juta, Cleopatra Rp 200 ribu-Rp 3 juta, dan anggrek Rp 35 ribu-Rp 500 ribu. “Untuk harga tergantung jenis tanaman dan ukuran,” tandasnya. (mg2/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni