Kepala Desa (Kades) Balerejo, Supran mengatakan, sedekah bumi tak sekadar melestarikan budaya. Namun, itu juga sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Yakni atas rejeki yang telah diberikan. “Dan berterimakasih kepada bumi kita yang telah memberi rejeki, berterimakasih kepada luhur kita yang babat tanah Balerejo, sekarang dijuluki Mbah Danyang,” ujarnya.
Sedekah bumi, lanjut Supran, sudah menjadi tradisi masyarakat Desa Balerejo. Mayoritas percaya, rutual tersebut ikut berepan dalam menyelamatkan warga dari hal buruk. Termasuk wabah penyakit. “Terbukti adanya pagebluk (Covid-19, RED), warga Desa Balerejo selamat semua,” kata pria ramah itu.
Dalam bersih desa tersebut, juga diisi berbagai hiburan. Yakni jaranan, tayuban, serta wayangan. Nah, di Desa Balerejo, ada beberapa danyangan yang dikenal masyarakat. Di antaranya, Raden Ayu Gadung Mlati, Raden Bagus Kliwon, Prabu Joko Lelono, dan Panji kalingking.
Salah satu yang menarik, semua hasil bumi dari warga Balerejo, disusun membentuk gunungan. Beberapa di antaranya, sayur, buah, dan lain sebagainya. Ada makna sendiri dari setiap hasil bumi yang disedekahkan. Misalnya pisang rojo dan pisang emas. Ini memiliki sebagai simbol rasa terimakasih kepada leluhur.
Dalam momen tersebut, Supran mengajak masyarakat Desa Balerejo selalu bersyukur kepada Tuhan. Selain itu, menghormati leluhur yang telah tiada. “Berterimakasih kepada bumi yang sudah memberi rejeki, memberi apapun, supaya diberi keselamatan dan kemakmuran kita bersama,” tandasnya. (zam/wen) Editor : Endah Sriwahyuni