Kondisi itu tak hanya dikeluhkan masyarakat, tetapi juga peternak ayam. Pasalnya, harga pakan ayam ikutan naik. Mahalnya harga pakan tersebut berdampak pada keuntungan penjualan telur. “Keuntungannya makin tipis,” kata salah satu peternak Ruli Sumarsono kepada koran ini, kemarin (1/6).
Peternak warga Desa Wonorejo, Kecamatan Srengat ini mengatakan, kenaikan harga pakan ayam terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Terutama pakan jenis jagung. Saat ini, harganya mencapai Rp 6.000 per kg. Sebelumnya dijual seharga Rp 4.500 per kg.
Kemudian, harga konsentrat yang sebelumnya Rp 400 ribu per sak per 50 kg, kini naik menjadi Rp 465 ribu. Lalu, bekatul yang sebelumnya Rp 4.300 per kg, saat ini menjadi Rp 5.600. “Untungnya saya punya stok pakan. Jadi, ketika harga pakan murah, saya beli lebih. Yang biasanya beli dua karung, bisa beli tiga atau empat karung,” ujarnya, kemarin (1/6).
Cara tersebut terpaksa dilakukan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu harga pakan naik.Namun, cara itu tidak bisa selalu dilakukan karena ada biaya perawatan ayam yang harus dikeluarkan. Apalagi, perawatan ayam harus rutin dilakukan.
Nah, mahalnya harga pakan tersebut membuat peternak menaikkan harga telur. Saat ini, harga telur ayam di tingkat peternak tembus Rp 28 ribu hingga Rp 29 ribu per kg. Kenaikan harga itu sudah terjadi sejak Mei secara bertahap. Menurutnya, selama harga pakan masih mahal, harga telur juga terus naik. “Sekarang saya jual Rp 28-29 ribu per kg, mengikuti daerah lain,” tambahnya.
Sebelumnya, Ruli sempat bertahan dengan harga jual normal. Namun, kondisi itu membuatnya terus merugi hingga terpaksa menjual 200 ekor ayamnya untuk menutupi biaya operasional. “Saya putuskan untuk menaikkan harga. Kalau nggak seperti itu pasti nombok terus,” terangnya.
Dalam satu hari, Ruli membutuhkan 50 kg pakan untuk 400 ekor ayam. Namun, dari ratusan ayam tersebut hanya mampu menghasilkan sekitar 15 kg telur setiap harinya. “Hanya sekitar 80 persen yang aktif bertelur setiap harinya. Ya, saya jual di sekitar sini,” tandasnya. (mg2/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni