Inovasi penting dilakukan dalam berbagai hal. Tak terkecuali soal bisnis kuliner. Hal inilah yang mendorong Reva Rere Lasese menjalakan usahanya. Dia membuat dimsum rendah kalori. Ini tak lepas dari ilmu gizi yang dipelajarinya saat kuliah.
Saat ditemui di rumahnya, kemarin (2/6), Rere mengaku mulai bisnis saat pandemi. Awalnya, dia menjual salad buah. Ini karena banyak orang membutuhkan asupan gizi, salah satunya dari buah-buahan. Seiring berjalannya waktu, dia menambah variasi produk. Mulai salad buah, asinan, risol mayo, dan dimsum. Kini dimsum menjadi produk yang paling diminati.
Wanita berusia 23 tahun itu mengaku belajar membuat dimsum secara otodidak. Yakni dengan melihat video di internet. Meski proses pembuatan cukup panjang, tetapi itu bukan halangan baginya. “Prosesnya panjang. Melakukan riset dan praktik berkali-kali untuk menemukan komposisi yang pas,” ungkapnya.
Nah, ilmu gizi yang dipelajari saat kuliah banyak membantunya membuat variasi dimsum. Yakni, rendah kalori. Tak hanya itu, dimsum buatan Rere rendah gluten dan banyak sayur. Meski begitu, rasa sayur tidak mendominasi sehingga tetap enak dikonsumsi. “Makanan ini (dimsum rendah kalori, Red) juga cocok untuk diet,” katanya.
Wanita berhijab itu juga menyediakan beragam varian dimsum. Mulai orisinal, mentai, dan mozzarella. Varian paling banyak diminati yakni dimsum mentai yang disusun menjadi tower dan tumpeng. Agar lebih menarik, pengemasan juga diperhatikan. “Karena itulah kalau ada acara, bosan pakai kue, bisa pakai alternatif dimsum tower atau tumpeng,” jelasnya.
Dia mengaku bahan-bahan pembutan dimsum mudah diperoleh. Di antaranya, daging ayam, telur, dan sayur. Terlebih ada supplier yang siap mengantar ke rumah. Namun, ada beberapa bahan yang susah didapat di Blitar. Yakni, mentai dan mozzarella. “Karena itulah setiap seminggu sekali harus ke Surabaya untuk mendapatkan bahan tersebut,” imbuhnya.
Harga dimsum buatan Rere dijual mulai Rp 17 ribuan. Tergantung jenis dan ukuran. Dari bisnis tersebut, dia mampu meraup omzet Rp 2-3 juta per bulan. Untuk teknik pemasaran, Rere memilih menggunakan kemajuan teknologi. “Paling jauh kirim ke Bogor,” tandasnya. (mg1/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni