PRIA asal Desa Jatitengah, Kecamatan Selopuro, ini menjalankan usaha dekor secara turun-temurun dari orang tuanya. Yakni sejak 1980. Namun, Akbar baru mengelola secara pribadi mulai 2018 lalu.
Dekor yang dirancangnya memiliki ciri khas. Salah satunya, dekor yang masih erat dengan nuansa adat Jawa. Sebab, hal itulah yang menjadi salah satu daya tarik. “Meskipun model minimalis sedang membumi, tapi masih banyak orang yang menginginkan tema Jawa,” ungkapnya.
Akbar mengaku tak pernah merasa insecure dengan desain dekor minimalis yang sedang naik daun saat ini. Baginya, desain dengan ukiran Jawa adalah keunikan yang harus dilanggengkan. Sebab, hal tersebut dapat meningkatkan nilai jual yang lebih tinggi. “Saat ini sudah tidak banyak orang yang paham dengan konsep Jawa,” akunya.
Akbar kerap menjadikan Gebyok Jawa sebagai ornamen latar belakang. Elemen pada Gebyok Jawa dinilai memiliki estetika tinggi. Sebab, terdapat beragam ukiran yang dibuat secara detail.
Dia menggunakan kayu jati sebagai bahan utamanya. Meskipun mahal, tetapi keawetannya terjamin. Dia menyadari desain dekor yang kerap kali berubah. Namun, hal tersebut tak menjadi kendala untuk lebih mengembangkan usaha dekor khas Jawa itu. “Motif pada gebyok memiliki makna yang beragam dan tentunya memberikan simbol kebaikan,” ungkapnya.
Tak berhenti pada desain khas zaman dulu, Akbar juga turut mengikuti perkembangan zaman. Dia selalu berupaya untuk mengikuti desain yang sedang naik daun. Sebab, target pasar saat ini tidak hanya orang yang kental akan budaya Jawa. Karena itulah, tidak sedikit klien yang meminta model minimalis. “Meskipun begitu, saya selalu mengombinasikan ukiran Jawa di setiap desain,” ungkapnya.
Akbar mengaku kesulitan saat menciptakan desain baru. Terlebih, tren saat ini hanya berlangsung sebentar. Biasanya, dia mencari referensi dekor melalui sosial media, salah satunya Pinterest. Berikutnya, dia mencoba untuk memadukan desain satu dengan yang lainnya. “Ibaratnya kalau sekarang ini satu model hanya 2-3 kali pasang,” katanya.
Menurutnya, konsep Jawa tak dapat mengalahkan desain modern. Justru, hal tersebut menjadi pembeda dengan yang lainnya. Sebab, tak dapat dipungkiri bahwa adat Jawa masih berlaku hingga saat ini. “Kalau dekorasinya ada sentuhan Jawa, maka bisa mendukung suasana,” tandasnya. (tan/c1/wen)