Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sempat Mangkrak Diterpa Covid-19, Wisata Jati Park Doko Kembali Bergeliat

Endah Sriwahyuni • Selasa, 6 Juni 2023 | 00:22 WIB
TARIK PENGUNJUNG: Pentas jaranan yang digelar setiap bulan bertujuan untuk menarik kembali kunjungan wisatawan ke Jati Park. (Jati Park untuk Radar Blitar)
TARIK PENGUNJUNG: Pentas jaranan yang digelar setiap bulan bertujuan untuk menarik kembali kunjungan wisatawan ke Jati Park. (Jati Park untuk Radar Blitar)
KABUPATEN BLITAR - Sempat mangkrak karena terdampak pandemi Covid-19, destinasi wisata Jati Park di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, kini mulai diaktifkan kembali. Pengelola berupaya membangkitkan kembali gairah kunjungan wisata di kawasan hutan jati tersebut.

Destinasi wisata alam Jati Park di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, berdiri sejak 2018 lalu. Sebelum menjadi objek wisata, Jati Park hanyalah kawasan hutan yang ditumbuhi pohon jati. Melihat ada potensi di situ, sekelompok warga setempat bersepakat untuk menyulap kawasan hutan tersebut menjadi objek wisata.

Apalagi, objek wisata alam berupa hutan makin berkembang di sejumlah wilayah di Blitar. Karena itu, warga Desa Plumbangan berusaha memanfaatkan peluang wisata alam tersebut. “Saat itu, warga sekitar sepakat membentuk paguyuban untuk mengelola hutan tersebut sebagai objek wisata. Paguyubannya kami beri nama Rimba Mulya,” ungkap humas Jati Park, Edi Sutanto, kepada koran ini kemarin (4/6).

Setelah itu, paguyuban melakukan pertemuan diskusi untuk menyusun konsep wana wisata alam tersebut. Mereka lantas memutuskan untuk memberi nama destinasi wisata Jati Park yang dikelola oleh paguyuban. Sesuai dengan namanya, objek wisata yang satu ini menyuguhkan keindahan hutan jati sebagai daya tariknya.

Sebelum pandemi menghantam Indonesia pada 2020 lalu, kawasan wisata pohon jati tersebut ramai dikunjungi. Hampir setiap akhir pekan selalu ada pengunjung. Namun, badai pandemi melumpuhkan aktivitas di objek wisata tersebut.

Pengelola pun terpaksa menutup sementara objek wisata guna mencegah penyebaran wabah virus Korona. Kondisi itu pun semakin memperparah keadaan. Objek wisata itu menjadi tidak terawat. Banyak fasilitas yang rusak. “Dulu sebelum pandemi, di tempat kami sering ada camping ground, outbound, sampai kopdar komunitas motor dan mobil,” ungkap pria 40 tahun ini.

Seiring pandemi mereda, pengelola mulai memberanikan diri untuk membuka kembali Jati Park. Namun, tingkat kunjungan wisata tersebut sudah tidak segairah dulu. Bahkan, akhir pekan sepi pengunjung.

Akhirnya, pengelola mencari solusi agar objek wisata tersebut bisa ramai pengunjung. Salah satunya dengan membuka kegiatan berupa pentas seni dan budaya serta kemah atau kamping. “Ya, ini memang karena banyak bangunan yang rusak. Jadi, kami belum berani untuk buka harian. Kami buka ketika ada pentas hiburan saja,” aku pria yang akrab disapa Wahyoto ini.

Pengelolaan objek tersebut bekerja sama dengan Perhutani. Lahan yang digunakan seluas 26 hektare sesuai kontrak, tapi yang dikelola untuk lokasi wisata hanya sekitar 8 hektare. “Pengembangan destinasi wisata ini didukung oleh Perhutani. Mereka menilai dengan adanya aktivitas wisata di hutan jati bisa mengurangi tingkat pencurian kayu atau penebangan ilegal yang tentu saja merugikan Perhutani,” tuturnya.

Wisata Jati Park menawarkan sejumlah spot foto menarik. Sejumlah patung satwa tampak menghiasi sudut hutan. Uniknya, patung-patung satwa itu dibuat dari ranting-ranting pohon. Kemudian untuk fasilitas yang tersedia di tempat wisata tersebut di antaranya toilet, musala, dan panggung hiburan ukuran 6x8 meter.

Sementara itu, permainan yang biasanya disewakan yakni ATV, mini trail, dan juga tenda untuk kemah. Sebenernya terdapat wahana flying fox, tetapi untuk sementara belum bisa digunakan karena rusak dan perlu perbaikan. “Rencananya destinasi wisata akan dibuka kembali untuk umum. Menunggu perbaikan selesai,” ujarnya.

Hampir setiap sebulan sekali, wisata Jati Park dimanfaatkan untuk panggung pentas seni. Yakni, pertunjukan jaranan maupun barongan. Bahkan, keindahan panorama hutan jati tersebut dijadikan para seniman sebagai latar belakang untuk fotografi maupun pembuatan video klip. (*/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni
#kawasan hutan jati doko #doko blitar #bangkitkan wisata hutan jati #wisata jati park