Raba-rubu warga saat melihat truk tangki BPBD menghampiri mereka. Kemarin (5/6), nyaris tiap pos keamanan lingkungan (kamling) dan sejumlah ruas jalan Desa Jambewangi, Kecamatan Selopuro dipadati warga. Selain menenteng jeriken kosong, mereka turut mengusung tandon air dan drum besar. Harapannya, wadah-wadah itu bisa terpenuhi air sebagai cadangan kebutuhan tiap hari selama sumur warga kering.
“Ayo pak ke sini, kami nunggu air dari tadi siang,” pekik salah seorang perempuan di depan rumahnya.
Jawa Pos Radar Blitar pun berkesempatan menilik kondisi sumur salah seorang warga. Saat ditengok, persediaan air di sumur sangat minim dan keruh, sehingga tak bisa dikonsumsi. Keresahan warga pun tak kunjung tuntas seiring aliran sungai yang terbatas. Sebab, mayoritas penduduk setempat mengandalkan aliran sungai untuk resapan sumur.
Kekeringan itu terjadi bukan murni karena cuaca, kemarau. Perbaikan dam atau bendungan Kali Lekso menjadi faktor utamanya. Maklum saja, dam yang terletak di pinggiran Kelurahan Tangkil, Kecamatan Wlingi itu rusak parah usai banjir dan hujan deras beberapa waktu lalu. Masyarakat dari sejumlah desa di sepanjang sungai pun berinisiatif memperbaiki bangunan tersebut secara swadaya.
Sayangnya, hal itu membawa persoalan lain. Sumur warga sepanjang sungai juga ikut terkuras. Sebab, untuk perbaikan ini debit air Sungai Lekso harus dikurangi.
Di sela-sela antre pembagian air, Rudianto, 50, warga setempat tampak semringah. Beberapa jerikennya penuh dengan air. Dia pun sempat mempertanyakan sampai kapan kekeringan itu berlangsung. Sebab, bukan hanya Desa Jambewangi, menurutnya, air sangat penting bagi kehidupan masyarakat luas.
“Sebelumnya sudah dapat informasi. Tapi memang tidak mengira kalau kekeringan meluas. Kadang kalau petugas datang, berebut posisi,” ungkapnya sambil susah-payah mengangkat jeriken.
Menurutnya, aliran sungai mulai minim sejak dua pekan lalu. Seketika, air di dalam sumur ikut surut. Pria ramah itu pun tak bisa berbuat banyak. Sebab, hanya mengandalkan kebutuhan air dari sumur. Segera dia lapor ke desa, lantas diteruskan ke petugas BPBD. Beberapa hari berikutnya air bersih mulai didistribusikan.
Dia menceritakan, sebelum menerima pasokan air, pria berambut cepak itu sempat berburu air di sumber. Warga menyebutnya dengan belik. Tak mudah sampai di lokasi itu. Selain medan yang curam, jalanan juga licin. Belum lagi saat sampai di belik, tak jarang warga lainnya sudah antre panjang.
“Pemuda-pemuda di sini ada yang bikin sumber. Sangat bermanfaat juga saat tiba-tiba kering begini. Tapi ya antrenya bisa sejam lebih,” imbuhnya sambil tersenyum.
Cerita selama kekeringan turut diulas warga lain, Yani Harianto. Pria yang setiap harinya berprofesi sebagai produsen tahu itu ikut terdampak saat sumur perlahan mengering. Kekeringan, kata dia, juga pernah terjadi, dulu. Tetapi, tidak terlalu parah. Baginya, air merupakan komponen penting dalam produksi tahu. Praktis, ukuran makanan yang terbuat dari kedelai itu sedikit diperkecil untuk keberlangsungan usaha.
“Meskipun mengalir tapi kecil. Sekarang agak terisi, tapi keruh jadi tidak bisa dipakai. Nanti tahu kotor ya tidak layak,” terangnya sambil sibuk memotong tahu.
Menurutnya, bukan hanya desanya yang paceklik air. Dusun-dusun lainnya, seperti Dusun Sumberjo dan Dusun Wonorejo pun mengalami kondisi yang serupa. Bahkan, kekeringan juga melanda sejumlah KK di Lingkungan Tenggong, Kelurahan Tangkil, Kecamatan Wlingi. Dia pun harus bersabar saat menanti distribusi air.
“Yang pasti kan dari utara dulu pembagiannya. Lalu, ke selatan, ke ruas-ruas jalan gang sampai merata,” tuturnya.
Pernah lelaki berusia 56 tahun itu menempatkan jeriken dan drum di teras rumah. Tetapi, sejak siang hingga menjelang sore, tak kunjung mendapat pasokan air. Dia pun memakluminya lantaran banyak orang yang juga membutuhkan. Petugas BPBD baru tiba saat malam hari, sekitar pukul 20.00. Di mana terdapat kumpulan jeriken dan drum kosong, di situlah petugas mengisi air. “Biarpun belakangan dapatnya, yang penting kebagian air,” tambahnya.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Blitar Ivong Berttyanto tak menampik banyaknya keluhan warga soal sulitnya mengakses air. Sebelumnya, tak kurang 360 KK melaporkan kekeringan, sehingga perlu dropping air.
Menurutnya, dam hingga kemarin telah selesai diperbaiki. Tetapi, perlu waktu agar sungai bisa mengalir seperti sebelumnya. Sesuai hasil asesmen, dia mengamini sejumlah sumur telah terisi kembali. Tetapi belum bisa dikonsumsi lantaran keruh.
“Selama kering ini kami terus dropping. Per tangki sekitar 6 ribu liter. Pembagiannya tiap pagi sampai malam. Tapi sudah menurun permintaannya karena sudah membaik,” tandasnya. (*/hai) Editor : Endah Sriwahyuni