Hal itu diakui oleh Kepala Bidang (Kabid) Damkar Kabupaten Blitar, Edy Wiyono. Salah satu fasilitas yang terbatas adalah mobil damkar. Saat ini hanya ada dua unit yang dimiliki. Padahal, pada 2022 lalu terdapat sekitar 45 kejadian kebakaran di Kabupaten Blitar. “Jumlah mobil yang ada belum mampu menjangkau wilayah Kabupaten Blitar yang luas,” ujarnya kepada koran ini, kemarin (7/6).
Seharusnya, kata dia, mobil damkar lebih dari dua unit. Idealnya, setiap kecamatan memiliki satu unit agar bisa menjangkau lokasi kebakaran. Artinya, harus ada 22 unit mobil damkar yang tersedia sesuai jumlah kecamatan di Kabupaten Blitar.
Selama ini, mobil damkar berangkat dari kantornya yang berada di Jalan Semeru atau utara Alun-Alun Kota Blitar. “Ketika ada kebakaran di wilayah terjauh, kami terkendala jarak tempuh. Seperti peristiwa kebarakaran di Pasar Kesamben beberapa waktu lalu,” terang pria berkumis tebal ini.
Damkar sudah berupaya untuk mengajukan pengadaan mobil damkar, tetapi anggaran terbatas. Solusi sementara, dia bekerja sama dengan damkar di daerah tetangga untuk bisa membantu pemadaman. Seperti kerja sama dengan damkar Kota Blitar, Kabupaten Malang, Kabupaten dan Kota Kediri, hingga Kabupaten Tulungagung. “Kami sudah berkali-kali mengajukan anggaran untuk pengadaan sarana pendukung, tapi belum disetujui karena anggaran minim,” katanya.
Selama ini, anggaran yang diberikan hanya cukup untuk kebutuhan perawatan atau pemeliharaan sarana dan prasarana damkar. Rata-rata untuk pemeliharaan satu unit mobil damkar sebesar Rp 16,8 juta.
Sementara itu, dari sisi personel pemadam dinilai sudah cukup. Saat ini ada 30 personel yang sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) pemadam kebakaran. Di samping terlatih memadamkan api, mereka juga terlatih menyelematkan hewan hingga mengevakuasi sarang tawon. (mg1/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni