Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, Sugeng Eko Santoso menyebut, produksi perikanan tangkap sangat bergantung pada sarpras. Artinya, nelayan bisa lebih bersemangat apabila fasilitas melaut komplet.
“Tidak banyak yang punya tempat berlabuh enak. Sarpras berdampak besar pada produksi perikanan tangkap. Untuk membangunnya butuh pendanaan besar,” ungkapnya, kemarin (7/6).
Salah satu jenis sarpras yang penting bagi nelayan yaitu ketersediaan kapal. Sayangnya, bantuan atau pengadaan kapal di tingkat kabupaten sulit terwujud. Selain kewenangan yang minim, hal itu dipicu keterbatasan anggaran.
“Kalau kewenangan laut ada pada provinsi dan pusat. Pemerintah daerah hanya sebatas pemberdayaan nelayan,” tuturnya.
Menilik produksi perikanan tangkap sejak Januari hingga bulan lalu, produksinya masih 462 ton. Progres tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan tahun ini. Yakni, 2.500 ton. Target itu tak berbeda dengan tahun lalu. Namun, produksi perikanan tangkap hanya tercapai 1.200 ton.
Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, menjadi lokasi penyumbang perikanan tangkap paling banyak. Sekitar 70 hingga 80 persen dari produksi total. Sisanya bersumber dari Pantai Serang, Jolosutro, Pasur, dan lainnya. Sarpras yang lebih lengkap jadi pemicunya.
“Selain itu, ada pelabuhan di sana (Tambakrejo). Kapal-kapalnya besar, jadi alat penangkap ikan juga besar. Hasilnya pun mengikuti,” terang pria berkacamata itu.
Disnakkan mencatat, jenis ikan yang didapat beragam. Namun, paling banyak jenis tongkol, tuna, dan cakalang. Ada pula jenis ikan lainnya seperti layang, sarden, dan kembung.
Target yang sulit tercapai pada tahun lalu turut dipicu cuaca penghujan ekstrem. Curah hujan tinggi membuat aliran sungai kotor. Praktis, air keruh yang bermuara itu membuat perairan pantai berangsur-angsur kotor sehingga merusak habitat ikan.
“Evaluasinya karena ramalan cuaca dan curah hujan tinggi. Alam seperti itu, target menjadi turun dan belum tercapai. Ramalan cuaca bisa dipakai untuk menentukan perkiraan target,” tambahnya.
Pihaknya memprediksi fenomena La Nina atau kemarau panjang tahun ini bisa berdampak pada kenaikan jumlah produksi perikanan tangkap. Sebab, curah hujan rendah membuat perairan resik. Ikan pun bisa kembali ke habitatnya. “Sekitar 1.200 nelayan pasti punya perhitungan tersendiri kapan berlayar,” tandasnya. (luk/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni