Itu terlihat di salah satu kios baju yang berada di lantai satu. Ada beberapa timba berjejer di sana untuk menampung tetesan air saat hujan. “Lek ndak udan nggak ketok bocor (kalau tidak hujan tidak kelihatan bocor),” ujar Nur Laeli, salah seorang pedagang di Pasar Legi, kemarin (8/6).
Dia mengaku harus memindahkan baju dagangannya ketika hujan. Jika tidak, baju langsung basah terkena cipratan air. Kondisinya juga kotor. Hal lain yang tak kalah menyedihkan, beberapa sisi pasar dirasa minim penerangan. Sebab, banyak kios tutup. Pembeli pun sepi.
“Ada beberapa yang kelihatan gelap. Pembeli jadi jarang masuk. Mengira nggak ada yang jualan. Sekarang pedagang sepi,” keluhnya.
Kondisi serupa juga terjadi di bagian belakang pasar. Tepatnya di lapak pedagang sayuran. Atap penghubung antara pedagang yang satu dan lainnya hanya berupa terpal dan paranet. Itu pun sudah terlihat koyak.
“Kalau hujan ya sayur-sayur banyak yang ketampu. Biasanya ditutup plastik,” ungkap Istirofah, salah seorang pedagang sayuran.
Musim kemarau memang bukan menjadi permasalahan. Namun, saat penghujan, pedagang harus memutar otak untuk menyelamatkan dagangannya. Jika kondisi itu terus berlanjut, pedagang ikut merugi. Sebab, pembeli enggan datang ke pasar. “Kalau terus seperti ini kan bisa rugi. Yang beli nggak nyaman, kita yang kehilangan pelanggan,” ujarnya.
Dia berharap pemerintah segera memberi solusi. Tak hanya soal atap bocor, tetapi juga bagaimana menggairahkan pasar. Menarik minat masyarakat untuk berbelanja di sana. Sebab, banyak orang yang menggantungkan hidupnya di pasar tersebut. (mg2/c1/wen) Editor : Endah Sriwahyuni