KABUPATEN BLITAR - Cuaca tak menentu yang terjadi akhir-akhir ini membuat pembudidaya gurami galau. Begitu juga di Kecamatan Wonodadi yang dikenal sebagai sentra peternak ikan gurami. Cuaca dingin menyebabkan panen terganggu dan turun hingga 20 persen.
Salah satu peternak gurami Imam Nawawi mengatakan, kolam pembesaran ukuran 10x30 meter berisi 25 ribu ekor bisa panen hingga 3 ton ikan gurami. Namun cuaca tak menentu tahun ini membuatnya sedikit stress. Pasalnya, hasil panennya jauh dari hari yang diharapkan. Yakni, hanya berkisar 1,7 ton atau separo dari hasil idealnya. “Belum lagi yang dari proses telur ke pembibitan. Kalau musim seperti ini dibilang berhasil itu, prosentasenya hanya 70 persen,” ujarnya ketika ditemui di kolam miliknya.
Menurut Imam, cuaca dingin membuat nafsu makan ikan berkurang. Akibatnya, pertumbuhan ikan menjadi lambat dan rentan terserang penyakit. Seperti jamur dan cacar pada bibit ikan. “Sebenarnya sudah ada vaksin. Tapi tetap kurang efektif diterapkan di kolam besar,” keluhnya.
Bagi peternak ikan yang sudah berpengalaman, musim dingin memang dihindari untuk menebar bibit ikan. Namun, karena permintaan dari sejumlah restoran masih mengalir, terpaksa tetap menebar benih ikan.
Imam juga memaklumi kondisi tersebut. Sebab faktor alam tidak bisa diprediksi. “Kalau dingin seperti sekarang, dari telur ke bibit itu bisa berhasil 60 persen saja sudah bagus. Terus dari bibit ke pembesaran bisa panen 40 sampai 50 persen itu sudah Alhamdulillah,” jelas pemilik wisata Kampung Gurame ini.
Akibat turunnya hasil panen, harga ikan gurami pun otomatis mulai naik. Saat ini, dari peternak ikan gurami harga berkisar Rp 30 ribu per kg. Padahal sebelumnya harganya hanya Rp 23 ribu per kg. “Harga naik berimbas pada permintaan restoran yang turun. Tapi belum tahu pasti penyebabnya,” tandasnya.
Selama ini, Imam memang melayani permintaan ikan gurami di beberapa restoran besar di Jawa Timur. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Madura. Selain itu, dia juga membuka restoran sendiri persis disebelah kolam gurami miliknya. (mg2)
Editor : Doni Setiawan