KABUPATEN BLITAR - YouTuber Indah Widia Tugmon punya cara tersendiri membangun ciri khas di saluran miliknya. Riasan dan kostum unik dikenakan ketika produksi konten. Melalui dandanan dan karakter jenaka pula, pemilik nama panggung Limbuk Jamrik ini turut membantu korban bencana menjalani trauma healing.
Humoris dan peduli. Begitulah kalimat singkat yang menggambarkan Limbuk Jamrik, kreator konten asal Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok. Berbekal ponsel, tripod, dan riasan yang nyeleneh, Limbuk tampil percaya diri di setiap video-video yang dia unggah di jagat maya. Selain merintis akun YouTube, dia juga menyisihkan waktunya menjadi aktivis sosial serta guru privat bahasa Inggris.
Keinginan menjadi seorang kreator konten itu bermula dari dirinya yang tergabung dengan komunitas yang dia bentuk, berjuluk Sayap Kasih Indonesia Abadi (SKIA). Melalui sejumlah kegiatan sosial dan relasi yang dimilikinya, perempuan bernama asli Indah Widia Tugmon itu terinspirasi membuat saluran YouTube yang tak biasa. Memadukan kultur masyarakat khas Jawa, tetapi dikemas kekinian menggunakan bahasa Inggris.
“Saya ngobrol sama teman saya, kok kepengin bikin akun yang khas. Nama Limbuk Jamrik sendiri saya dapat saat ikut di salah satu kegiatan karnaval tahun lalu,” ujarnya diikuti bergelak tawa.
Pengambilan nama Limbuk, lanjut dia, terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan tanah Jawa. Dalam karakter aslinya, Limbuk merupakan abdi perempuan yang bertingkah konyol nan menghibur, sedangkan Jamrik merupakan akronim dari Jawa dan Amerika. Itu karena dia merupakan warga asli Jawa, sementara suaminya, Roy Paul Tugmon, merupakan pria berkebangsaan asli Amerika Serikat.
Ibu tiga anak itu menjabarkan, pemilihan kostum untuk karakter Limbuk Jamrik juga mempertahankan busana tradisional. Seperti mengenakan kain jarik, kebaya motif bunga-bunga, serta memakai selempang jarit berisi barang-barang pribadi. Rambutnya yang digelung juga menggambarkan wujud Limbuk pada pewayangan. Agar tampak beda, body painting pun ditambahkan pada wajah dengan perpaduan warna merah muda dan putih.
Keinginan Indah berdandan pun sederhana. Selain untuk kebutuhan berkonten ria, dia berharap setiap orang yang berjumpa dengan dirinya bisa terhibur juga melupakan kesedihan.
“Di video, saya pakai selingan bahasa Inggris. Selain agar konten bisa menjangkau banyak penonton, ini untuk mengedukasi bahwa belajar bahasa asing juga penting, suatu saat pasti butuh,” papar perempuan berusia 47 tahun itu.
Karakter tersebut memang belum lama ini dia bangun. Yakni, pada November tahun lalu. Meski begitu, banyak respons positif yang dia dapat dari pengguna internet maupun orang-orang di sekitarnya. Kendati begitu, tak bisa dipungkiri bahwa komentar buruk terkadang muncul di akunnya.
“Ada yang bilang, alah kok sok-sokan pakai bahasa Inggris, orang cuma bikin konten. Tapi saya cuek, mungkin memang dia belum tahu konsep konten saya,” sambung dia.
Selain sibuk merintis akun YouTube, Indah juga aktif mengikuti berbagai macam kegiatan sosial. Misalnya, membantu pengidap kanker dan korban bencana alam. Jauh sebelum menjadi Limbuk Jabrik, Indah lebih dulu membentuk komunitas kecil bernama SKIA. Itu dia bangun sekira 2021 lalu. Mengandalkan relasi pertemanan yang luas, dia melalui komunitas sosial tersebut kerap menyalurkan bantuan dan motivasi terhadap penyandang disabilitas ataupun korban bencana alam.
Dalam beberapa kunjungan di lokasi bencana, tak jarang Indah turut didapuk sebagai sosok yang membantu pemulihan trauma (trauma healing) para korban. Seperti saat bencana banjir Kecamatan Sutojayan, insiden ledakan petasan di Kecamatan Ponggok, dan lainnya.
“Trauma healing itu kan bukan sekadar menghibur, melainkan memulihkan psikis. Penyembuhan untuk mengatasi gangguan psikologis seperti kecemasan,” sambungnya.
Dia masih ingat betul saat dirinya dan rekan sejawatnya mengunjungi bocah pengidap kanker sinus di Desa Ngaringan, Kecamatan Gandusari. Sejumlah kegiatan sosial dilakukan untuk mengumpulkan donasi kepada bocah malang tersebut.
“Berhari-hari bahkan berbulan-bulan, kami menggelar kegiatan pengumpulan donasi. Begitu sudah terkumpul banyak sekitar Rp 21 juta, anaknya sudah berpulang, tapi uang donasi tersebut tetap kami salurkan,” terangnya.
Dari deretan aktivitas yang dia lakukan seperti menggeluti dunia kreator konten, guru privat bahasa Inggris, dan terlibat sebagai aktivis sosial, masih ada mimpi Indah yang belum sepenuhnya terwujud. Yakni, membuka usaha kursus bahasa Inggris di kampung halamannya.
“Bahwa belajar itu tidak ada batasannya. Saya ingin kembali merintis usaha tersebut bersama suami,” tandasnya. (luk/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan