KABUPATEN BLITAR - Dampak pandemi Covid-19 belum sepenuhnya hilang dari Bumi Penataran. Indikasinya, destinasi wisata belum begitu banyak dikunjungi. Padahal, untuk membuka kembali wisata butuh modal yang tidak sedikit untuk perawatan atau perbaikan fasilitasnya.
Ya, lebih dari 2,5 tahun sektor pariwisata lumpuh lantaran kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pengelola wisata harus patuh dan menutup usaha mereka dalam rangka mencegah penyebaran virus. Tak hanya minim pemasukan, fasilitas wisata pun kurang mendapat perhatian selama kurun waktu tersebut. “Selama tutup, banyak sekali infrastruktur wisata yang rusak. Mulai dari perairan, bangku, kursi dan ada banyak lagi yang rusak akibat tidak terurus,” ujar penjaga salah satu wisata di Kecamatan Ponggok, Lukman Marsidik.
Dia mengungkapkan, kondisi ini terjadi karena tempat dia bekerja adalah destinasi wisata yang terbuka. Artinya, menerima paparan sinar matahari dan hujan secara langsung. Tak hanya kusam, lambat laun juga timbul karat pada sejumlah fasilitas yang terbuat dari metal.
“Karena lama tak diurus, banyak sampah dari daun-daun pohon di sekitar yang berserakan di tempat wisata, dedaunan yang hatuh dari pohon yang berada di lokasi wisata sangatlah banyak. Karena sudah 2,5 tahun belum di bersihkan sama sekali,” keluhnya.
Proses perbaikan serta pembersihan wisata sebenarnya sudah dilakukan selama kurang lebih 2 bulan lamanya. Selain pengecatan, pembenahan lampu-lampu yang rusak akibat tidak terpakai sejak beberapa tahun silam juga dilakukan. Hal ini dilakukan agar wisata yang dulu pernah eksis itu tidak tampak terbengkalai lagi. “Agar warga Blitar Raya yang ingin liburan bersama anak-anaknya tidak perlu lagi bepergian jauh untuk berlibur,” harapnya.
Walaupun renovasi belum sepenuhnya rampung, wisata sudah dibuka kurang lebih satu bulan lalu. Sayangnya, tidak banyak pengunjung yang menyempatkan datang. “Padahal dulu banyak sekali pengunjung yang datang, sekarang sepi,” kata Lukman.
“Paling uwong-uwong durung podo ngerti lek wisata iki uwes bukak meneh (mungkin orang-orang belum tahu jika wisata ini sudah buka kembali, Red) imbunya. (mg2/hai)
Editor : Doni Setiawan