KABUPATEN BLITAR - Blitar bisa dibilang menjadi gudang orang kreatif dari berbagai bidang. Tak terkecuali bidang musik. Muhammad Tri Hanna warga Desa Tumpang, Kecamatan Talun, ini berhasil mendirikan manajemen musik sendiri, meskipun dari segi pendidikan hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Awal karirnya dimulai dari aktivitas meng-cover lagu pada 2019. Kemudian, hasilnya diunggah lewat YouTube. Saat itu, aktivitasnya sekedar untuk menyalurkan hobi. Tenyata, konten yang dibuatnya tersebut menarik teman sehobi hingga ikut bergabung.
Ya, Muhammad Tri Hanna belajar musik secara ototdidak. Keluarganya bukan datang dari seniman musik. Pemuda 23 tahun itu hanyalah tamatan SMP. Meski tidak melanjutkan ke jenjang Sekolah menengah atas (SMA), semangat belajarnya tidak luntur.
Dia berusaha untuk melanjutkan kursus otomotif. Tujuannya untuk memperoleh pengalaman dan menjalankan hobi bermusik. Dia menjalani dua-duanya dan ternyata lebih condong kepada aktivitas bermusik. Berjalannya waktu, terbentuklah grup musik bernama Trips pada 2020.
“Di grup itu teman-teman membantu produksi lagu. Mulai dari rekaman, buat video klip dan lain sebagainya. Saya solo musik, tetapi di atas nama Trips Music. Lagu pertama berhasil saya ciptakan pada 2020 ,” ujar Tri Hanna.
Di tengah perjalanan merintis karir bermusik, Tri pernah mengalami hal pahit. Dia ditipu oleh label musik dan tidak mendapatkan keuntungan sama sekali dari dua lagu yang diproduksinya. Hak ciptanya hilang. Padahal, dia sudah menyetorkan klaim hak cipta setelah itu. Dia berusaha mencari pertanggungjawaban, tetapi pihak label musik tidak bisa dihubungi. Seharusnya sesuai aturan, label memiliki kewajiban membayar royalty.
Tri menyadari, saat itu pengetahuan bermusik masih belum matang. Dia awam dalam mencari label musik. Saat itu, dia penasaran untuk memasarkan lagunya di spotify.
Untuk bisa masuk aplikasi musik ternama itu, dirinya harus menggandeng label musik untuk memasarkan. Namun, karena minim pengetahuan tentang label musik yang berkualitas sehingga terkena penipuan itu. ”Padahal royalti yang dihasilkan dari 2 lagu tidak sedikit. Nilainya bisa mencapai Rp 25 juta hingga Rp 30 juta. Sampai sekarang, royalti masih masuk ke label musik tersebut. Dari kejadian itu, saya pun belajar dan bisa menciptakan label musik sendiri, yakni SM Pro,” terangnya.
Hingga kini, lagu pertamanya yang berjudul Gebang itu telah tembus 75 ribu kali dimainkan di spotify. Tiga bulan setelahnya, dia merils lagu lagi berjudul Matur Suwun dengan produksi dan pemasaran lewat spotify. Kini, lagu tersebut sudah didengar sebanyak 2,3 juta kali.
Terhitung sejak 2021, dia membangun manajemen musik bernama SM Pro. Label itu untuk memfasilitasi teman-teman sesame penghobi musik untuk berkarya. Sebab, biaya rekaman lumayan mahal. Dari ilmu otodidaknya itu dia berniat untuk mewadahi teman-temannya yang ingin menciptakan lagu. Alasannya, dia pernah merasakan kesulitan untuk mencari wadah produksi musik.
Banyak yang tertarik ikut dengannya. Hingga kini, sudah ada 4 orang yang bergabung.
Dia menjelaskan, SM Pro itu manajemen musik atau label musik. Tugasnya mengatur jadwal teman-temannya untuk rekaman hingga mencarikan job manggung. Pemasaran lagunya, tetap memalui spotify dan YouTube. Karyanya itu berhasil monetisasi dan memperoleh pendapatan Rp 3 juta hingga Rp 5 juta tiap bulan dari spotify.
Proyek ke depan, dia terus membantu teman-temannya produksi lagu dan musik. Salah satu temannya merupakan pelajar dari SMKN 1 Nglegok. “Namanya sudah besar. Dia sering ikut orkes-orkes bersandi joko klutuk dan niken salindri. Dia bisa disebut komposer atau musisi,” tandasnya. (jar/sub)
Editor : Doni Setiawan