Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Begini Tradisi Masyarakat Blitar Sambut Suro, Ada Takir Plontang

Doni Setiawan • Jumat, 21 Juli 2023 | 04:00 WIB
ANTUSIAS: Sejumlah takir yang disiapkan untuk baritan menyambut tahun baru Islam, kemarin (18/7). 
ANTUSIAS: Sejumlah takir yang disiapkan untuk baritan menyambut tahun baru Islam, kemarin (18/7). 

KABUPATEN BLITAR - Tanggal 1 Muharram atau 1 Suro merupakan salah satu bulan yang mulia. Masyarakat khususnya Jawa menyambut 1 Muharram dengan berbagai cara. Salah satunya dengan tradisi baritan atau selamatan.

Biasanya, masyarakat membawa takir plontang yang berisi makanan. Baritan atau selamatan itu dilakukan untuk tujuan berdoa kepada Allah SWT agar terhindar dari marabahaya dan berbagai penyakit. Selain itu, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kerukunan dan semangat bermasyarakat. “Tradisi memang unik. Sebagai orang Jawa harus melestarikannya,” kata salah satu pembuat takir plontang Tatik Suwanti, kemarin (18/7).

Uniknya, wadah takir itu dibuat dari daun pisang. Daun yang masih hijau dibentuk seperti perahu. Ujung kanan dan kirinya direkatkan dengan lidi dan di setiap tepinya diberi daun janur kuning.

Biasanya, terdapat empat jenis lauk yang disajikan dalam takir plontang. Di antaranya, olahan telur dadar goreng, sambal goreng, serundeng kelapa, dan mie goreng. Empat lauk tersebut bermakna rasa syukur dan doa yang dipanjatkan dalam menyambut awal tahun baru Islam. “Biasanya, juga ada yang meminta tambahan lauk. Yang jelas tidak menghilangkan lauk wajibnya itu,” kata perempuan 46 tahun ini.

Biasanya, jumlah takir yang dibawa baritan sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Antusiasme warga yang mengikuti takir plontang menyadarkan kita bahwa kebersamaan akan mengalahkan segalanya. Sebab, warga bisa bertemu, berkumpul untuk mempererat silaturahmi baik dengan kerabat maupun tetangga.

Baritan biasa dilaksanakan di persimpangan jalan atau masjid terdekat. Tradisi itu diawali dengan doa bersama. Setelah itu, pembagian takir plontang secara acak. ”Hakikat takir plontang yakni sebagai sarana untuk berbagi kepada sesama dan memohon kepada Allah SWT agar terhindar dari bencana dan penyakit. Semoga keluarga, saudara, tetangga, sahabat, dan bangsa kita diberikan kesehatan,” tandasnya. (lit/sub)

Editor : Doni Setiawan
#1 suro #1 Muharram 1445H #tradisi 1 muharram