KABUPATEN BLITAR – Larung sesaji digelar masyarakat pesisir pantai selatan Blitar, tepatnya di wilayah Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto. Salah satu rangkaian kegiatan sebelum larung sesaji, kemarin malam telah digelar pementasan wayang kulit semalam suntuk di Balai Desa Tambakrejo.
Kepala Dusun Tambakrejo, Sukimin mengatakan, acara larung sesaji di pantai selatan atau pantai Tambakrejo merupakan tradisi masyarakat setempat, yang digelar setiap 1 Muharram atau Syura. Salah satu rangkaian kegiatan sebelum diadakan larung sesaji, digelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Wahyu Pamong”, bersama dalang ki Redy Suyoto Putro.
“Terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung adat budaya yang dimiliki masyarakat Tambakrejo. Apapun kondisinya, apapun keadaannya, 1 Syura ini tetap berlangsung di desa Tambakrejo,” katanya.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Sukimin, selain pagelaran wayang kulit, juga diadakan ruwatan sampai pukul 06.30. Untuk persiapan upacara larung sesaji, pihak panitia membuat tumpeng yang dikirab dari pendapa balai desa menuju laut. Kemudian tumpeng tersebut dibawa ke laut oleh para nelayan untuk dilarung.
“Kegiatan lain, sebelum wayangan ada mocopat. Ini tradisi nguri-nguri budaya yang berkaitan dengan tembang Jawa seperti pangkur, pucung, mocopat, selendro, sinoman dan lainnya. Selain itu, juga dilakukan bersih desa kenduri di pepunden, cikal bakal, dan di balai desa,” terangnya.
Di lokasi acara, antusias dan dukungan masyarakat Tambakrejo sangat luar biasa. Ini terlihat masyarakat memadati balai desa dimana pargelaran wayang berlangsung. Hadir sebagai bintang tamu dalam wayangan kemarin malam, Proborini dan Manohara. Mereka berdua berhasil menghibur seluruh penonton Setelah itu baru dilanjutkan ruwatan. “Ruwatan ini bertujuan membuang sukerta, tolak balak, dan memohon keselamatan,’tambahnya.
Secara garis besar, kata dia, larung sesaji syura ini untuk melestarikan budaya dan tradisi kepercayaan/keyakinan yang dimiliki sejak turun temurun di Tambakrejo. “Juga sebagai wujud syukur masyarakat Tambakrejo,” kata dia.
Diterangkan dia, masyarakat Tambakrejo masyarakat majemuk, mayoritas petani palawija dan nelayan, dan hidup di pesisir pantai. “Ketika kami ramah terhadap alam, maka Insyallah alam akan bersahabat dengan kita,”terangnya.
Larung sesaji tetap akan dilaksanakan selama-lamanya, dan akan terus berkembang dari generasi ke generasi jangan sampai punah. Secara sosial kegiatan ini dapat membangkitkan serta mengeratkan kerukunan dan gotong royong warga. Sehingga semua merasa saling memiliki. “Kami terus berupaya mengenalkan warisan budaya tak berupa benda yang dimiliki Desa Tambakrejo yang sudah bersertifikasi nasional. Melalui media (jawapos radar blitar,Red) ini juga membantu kami mengenalkan potensi-potensi desa khususnya desa tambakrejo” tandasnya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Camat Wonotirto dan Pemerintah Kabupaten Blitar. “Harapan kita semua, acara ini dapat mengeratkan warga sekitar, sehingga nanti mencari pangupojiwo (mata pencaharian) supaya lancar. Gusti Allah mengasih berkah yang ada di laut akan melimpah untuk masyarakat Tambakrejo yang sejahtera, sekaligus nguri-nguri budaya,”ujar Camat Wonotirto, Mahendra Pujiraharja. (zam/ris)
Editor : Doni Setiawan