Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gelar Bersih Desa Hingga Larung Sesaji, Ini Makna Suronan Bagi Warga Blitar

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 25 Juli 2023 | 19:19 WIB
RAMAI: Warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto melarung sejumlah hasil bumi ke tengah laut untuk menyambut Sura pada Jumat (21/7) lalu.
RAMAI: Warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto melarung sejumlah hasil bumi ke tengah laut untuk menyambut Sura pada Jumat (21/7) lalu.

KABUPATEN BLITAR - Budaya larung sesaji telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat pesisir selatan Kabupaten Blitar. Secara bergantian, pusat ritual larung digilir di beberapa titik pesisir selatan wilayah Kabupaten Blitar. Larung sesaji tahun ini kembali digelar di Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto.

RIBUAN warga Kabupaten Blitar sejak pagi telah mulai memadati sekitar Pantai Tambakrejo, lokasi larung sesaji bakal dilaksanakan. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia, baik dari pengisi kegiatan, tokoh masyarakat yang memandu kegiatan larung, hingga warga yang membawa sesaji ke tengah laut.

Kegiatan yang digelar setiap 1 Muharam atau 1 Sura ini bukan hanya sekadar ritual tahunan. Namun, ada tujuan khusus setiap tahun awal tahun baru, yakni ada harapan dan doa dari seluruh masyarakat agar bisa mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan dalam berbagai kehidupan sehari-hari.

Camat Wonotirto, Mahendra Pujiraharja menuturkan, rangkaian menyambut 1 Muharam ini tidak hanya pada hari-H kegiatan larung sesaji, tetapi sehari sebelumnya sudah digelar pergelaran wayang kulit, kemudian dilanjutkan ruwatan hingga pukul 06.30. “Setelah itu, seluruh panitia bersiap untuk menjemput rombongan bupati dan forkopimda di lokasi kegiatan larung sesaji,” ujarnya.

Bahkan sebelum itu, beber Mahendra, berbagai kegiatan sebagai rangkaian kegiatan larung sesaji telah dilaksanakan mulai dari bersih desa, mocopatan, kenduri pepunden, dan berbagai kegiatan lainnya. “Selain sebagai bagian dari nguri-uri budaya leluhur yang telah dilaksanakan secara turun-temurun, juga bagian dari ritual doa untuk menolak bala sehingga berbagai kegiatan yang dilaksanakan masyarakat setahun ke depan bisa lebih lancar dan selalu dalam keberkahan serta perlindungan Allah SWT,” ungkapnya.

Khususnya, masyarakat nelayan di pesisir pantai Kabupaten Blitar bisa mendapatkan berkah dan rezeki dari laut. Karena mereka rata-rata memang menggantungkan kehidupan dan ekonomi di laut sehingga butuh ada larung sesaji dilaksanakan. “Rata-rata panitia larung ini adalah warga nelayan, jadi mereka juga sangat antusias menggelar dan mengikuti prosesi larung sesaji ini,” akunya.

Salah satu warga Kecamatan Wonotirto, Muhammad Ichwan mengaku bahwa setiap tahun selalu datang dan ikut menyaksikan kegiatan larung sesaji. Memang pelaksanaan larung ini kadang digelar di Pantai Serang, kemudian Tambakrejo. “Ya, saya dan keluarga selalu ikut, dan ini sebagai bagian dari doa kami untuk kehidupan yang lebih baik dalam setahun ke depan,” jlentrehnya.

Menurut bapak dua anak ini, kegiatan tahunan tersebut tidak hanya sekedar ritual budaya yang dilaksanakan setiap 1 Sura, tapi juga menjadi daya tarik wisata. Karena tidak hanya masyarakat Blitar yang datang, tetapi juga dari daerah sekitar. “Ini juga menjadi daya tarik wisata. Masyarakat nelayan bisa menjual hasil lautnya untuk dinikmati oleh ribuan pengunjung yang datang,” akunya.

Sementara itu, beberapa penjual ikan mengaku bersyukur dengan adanya kegiatan larung sesaji ini karena menjadi berkah tersendiri bagi mereka. Momen ritual budaya ini juga selalu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat nelayan. “Alhamdulillah, beberapa kilo ikan yang saya jual sudah laku. Yang laku ada ikan asap, yang ikan segar juga ada,” beber perempuan yang enggan menyebutkan namanya ini. (*/c1/ady)

Editor : Doni Setiawan
#Larung Sesaji #suro #budaya #tradisi