Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perlu Perbaikan, Bangunan Dam Togogan Rusak Parah

Doni Setiawan • Kamis, 27 Juli 2023 | 03:00 WIB
BERANTAKAN: Dam di Kelurahan Togogan, Kecamatan Srengat, terlihat sudah tidak utuh.
BERANTAKAN: Dam di Kelurahan Togogan, Kecamatan Srengat, terlihat sudah tidak utuh.

KABUPATEN BLITAR - Kondisi dam di Kelurahan Togogan, Kecamatan Srengat, dibiarkan tanpa ada perawatan. Akibatnya, kerusakan terlihat sangat jelas di seluruh bagian.

Berdasarkan pantauan di lapangan, dam dengan panjang sekitar empat meter ini kusam dan berada di kawasan persawahan. Tinggi bangunan tersebut sekitar satu meter lebih terdiri dari bangun batu koral dan kayu.

Jika dilihat dari bawah, batu-batu sudah lapuk dan tidak ada lagi pelat untuk menutup arus sungai. Sehingga air mengalir dengan leluasa. “Kebetulan lewat di sekitar sawah ini untuk melihat tanaman,” ungkap Cahyo.

Dia menyayangkan bangunan milik pemerintah ini sudah tidak utuh lagi. Bagian atas atap dari seng banyak yang sudah hilang.

Belum lagi di bagian tiang penyangga dari kayu sudah lapuk. Jika dibiarkan dan diperkirakan lama-kelamaan akan ambruk ke sungai.Menurut dia, beruntung dasar bangunan masih kokoh sehingga bisa dilewati para petani. “Hanya bisa dilewati sepeda motor,” tandasnya.

Di sekitar dam terlihat pula sedimen tanah yang menghambat aliran sungai. Jika kondisi normal akan deras alirannya. Padahal, kata dia, fungsi dari dam ini sangat penting untuk pertanian. Apalagi sekarang masih jarang hujan. “Di sini rata-rata tanaman butuh air, termasuk bunga kol, jagung, cabai, dan lain-lain,” tandasnya.

Berbeda dengan petani dari Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat, Khoir mengatakan, tidak ada masalah dengan kebutuhan air. Lantaran ada sebagian petani memilih untuk membuat sumur. Dengan maksud, untuk berjaga-jaga ketika musim kemarau.

Petani bunga kol ini belum pernah ada masalah dengan air. Sebab untuk kebutuhan tanaman tersebut tidak begitu banyak. Terpenting bagi petani merupakan pupuk lebih murah, sehingga membantu mengurangi biaya produksi. Jika pupuk subsidi ditambah untuk petani, maka merupakan kabar gembira. “Jatah pupuk subsidi terus dikurangi, harga pupuk non-subsidi tetap mahal,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selama ini pemerintah selalu membangun saluran irigasi. Namun tidak semua bisa dilaksanakan. Artinya tetap butuh prioritas di wilayah tertentu. (sch/din)

Editor : Doni Setiawan
#dam #Togogan #Perbaikan