KOTA BLITAR - Kelangkaan tabung gas melon hampir merata di seluruh daerah. Dan hal inilah yang dirasakan oleh masyarakat, terutama sejumlah pelaku usaha di Kota Bung Karno. Hal ini tentu berdampak pada penghasilan usaha mereka.
Pelaku usaha paling terdampak akibat langkanya pasokan gas melon seminggu terakhir. Pasalnya, elpiji melon bisa dikatakan menjadi alat utama dalam mengais rezeki. Seperti dirasakan oleh Agus Winarto, pemilik warung makan yang berlokasi di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Kepanjenkidul. Dia mengungkapkan sulit untuk mendapatkan gas melon. Sehingga harus berkeliling ke beberapa pangkalan dan toko untuk mendapatkannya. Meskipun stok ada, seringkali pihak pangkalan memberikan batasan. “Saya punya 5 tabung, tapi saat ini hanya dijatah 3 tabung dari pangkalan,” ungkapnya.
Hal itu tentu membuat hasil dagangannya tidak maksimal. Untuk mengakalinya, dia harus mengurangi jumlah stok bahan makanan yang akan dimasak. Jika biasanya bisa memasak sekitar 10 kilogram (kg) nasi, saat ini dikurangi 7 kg saja. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penggunaan gas melon. “Sudah dua hari seperti ini, dari pada tidak berjualan sama sekali, ya terpaksa saya membatasi jumlah pemakaian gas,” bebernya.
Akibatnya, hasil jualan yang biasa didapatkan kurang maksimal. Padahal banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, membuat perekonomian keluarga cukup terganggu. Pasalnya dari usaha tersebut dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi yang sama juga dialami oleh Suparti. Penjual gorengan ini mengaku pernah beberapa hari tidak berjualan karena sulit mendapatkan gas melon. Padahal berjualan gorengan menjadi sumber penghidupannya. “Pernah sehari nggak jualan, besoknya jualan, ya diselang-seling aja,” tuturnya.
Dalam dua hari dia bisa menghabiskan satu tabung. Artinya, dua hari sekali dia harus menyetok persediaan tabung. Dari dua tabung, satu tabung miliknya terkadang menganggur alias tidak ditukar karena kesulitan mencari gas melon.
Sebagai alternatif tak jarang dia menggunakan kayu bakar untuk memasak. Sehingga gas yang biasa digunakan untuk kebutuhan di rumah bisa dialihkan untuk kebutuhan berjualan gorengan.
“Kalau ada kayu atau batok kelapa untuk memasak dirumah pakai tungku kecil, kalau nggak ada ya pakai gas,” terangnya.
Dia berharap masalah ini bisa segera teratasi. Karena masyarakat akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan jika stok elpiji saat ini langka. Terutama pelaku usaha yang membutuhkan banyak stok gas. Apalagi pangkalan atau toko memberi batasan dalam membeli gas melon tersebut. “Ya bukan hanya usaha makanan, peternak ayam juga kesulitan. Karena untuk nguthuk (membesarkan) anak ayam sekarang pakai gas juga,” tandasnya. (mg2/ady)
Editor : Doni Setiawan