KOTA BLITAR - Menyikapi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg), Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Kota Blitar Dadik Iswahyudi menduga adanya keterlambatan dari distributor. Selain itu, jumlah tabung yang diberikan ke pangkalan juga dibatasi. “Karena distribusi lambat sedangkan permintaan masyarakat tinggi, akhirnya stok pangkalan banyak yang kosong,” ungkapnya kemarin (26/7).
Mestinya jika stok gas elpiji di agen sudah ada, maka harus segera didistritribusikan ke masyarakat agar kelangkaan ini tidak berkepanjangan. Apalagi, mayoritas masyarakat saat ini tidak hanya memiliki satu tabung. Biasanya mereka memiliki lebih dari satu tabung sebagai cadangan.
Imbas dari kelangkaan ini yang terdampak adalah pelaku usaha kuliner seperti warung makan. Mayoritas dalam sehari mereka bisa menghabiskakan lebih dari satu tabung. Jika stok terbatas tentu aktivitas berdagang akan terganggu. Imbasnya, pendapatan berkurang.
Beberapa kebijakan baru dari Pertamina nyatanya juga sedikit menyulitkan masyarakat. Seperti menunjukkan KTP ketika hendak membeli gas elpiji. Apalagi, tidak semua orang selalu membawa KTP. “Karena kebijakan baru kemungkinan jadi penyebab juga. Ini juga untuk memastikan sasaran yang tepat guna,” imbuhnya.
Maka dari itu, Dadik berharap distributor segera mengambil kebijakan untuk segera mengatasi permasalahan tersebut. Serta mempermudah transaksi jual beli gas elpiji. “Mungkin masyarakat bisa pesan dulu ke toko. Jadi kalau stok di pangkalan sudah ada, mereka bisa menyisihkan,” tandasnya. (mg1/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan