KOTA BLITAR - Geliat ekonomi Kampung Batok di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo belum pulih sepenuhnya pasca dihantam pandemi Covid-19. Dari dua perajin batok, kini tinggal satu perajin yang masih bertahan. Salah satunya adalah Anas Faesol.
Kini, dia berusaha bangkit dari keterpurukan akibat pandemi. Beberapa upaya pun dilakukan agar penjualan batoknya kembali meningkat. Di antaranya, mempermudah reseller dengan sistem dropship, meningkatan desainnya (menambah model), hingga meningkatkan service costumer. “Pelanggan lama saya kontak lagi. Saya beri info bahwa masih menerima pesanan,” katanya, kemarin (28/7).
Sebelum pandemi melanda, Anas mampu mengirim empat kali paket produk batok ke luar daerah dalam sebulan. Salah satu daerah tujuannya adalah Yogyakarta. Namun, saat pandemi terjadi, produksi kerajinan dari tempurung kelapa itu mandek. Bahkan, nyaris gulung tikar. “Ya, saat itu mobilisasi masyarakat dibatasi. Pariwisata banyak ditutup. Pesanan pun dicancel.” ungkap pria yang sudah merintis usaha sejak 2009 ini.
Selama wabah korona tersebut, dia harus merumahkan beberapa karyawannya. Hal itu dilakukan agar tetap bisa bertahan dan berproduksi. ”Kita rumahkan mereka. Saat itu, hanya dibantu dua orang yang bekerja untuk bersih-bersih sambil aktivitas ringan apa yang bisa dikerjakan,” ujar pria 49 tahun ini.
Kini, Anas dibantu oleh dua pekerja. Tugas mereka merangkai potongan batok yang sudah dibentuk sesuai pola. Sedangkan Anas fokus desain produk dan pemasaran. Meskipun kini berkembang pemasaran online, Anas tidak tertarik. Menurutnya, berjualan online perlu banyak hal yang harus dipelajari, termasuk memahami kekurangan dan kelebihannya.
Saat ini, dia fokus memproduksi tas perempuan. Sebab, peluang penjualan produk tas tersebut besar. Tas tidak hanya untuk dipakai, tetapi juga bisa untuk menambah koleksi atau oleh-oleh. Karena itu, Anas mendesain tas semenarik mungkin agar dilirik konsumen. “Meski tidak sering dipakai, tetapi karena lihat uniknya, lihat mungilnya, lihat cantiknya, mereka beli untuk koleksi atau oleh-oleh,” tuturnya. (mg3/sub)
Editor : Doni Setiawan