KOTA BLITAR - Pemkot Blitar menyiapkan pusat pengaduan call center 112 untuk menerima laporan masyarakat soal peristiwa darurat. Tak jarang, ada orang yang iseng menyampaikan laporan palsu.
Meja minimalis berdinding kaca setinggi dada orang dewasa itu jadi poros menerima informasi dari ratusan bahkan ribuan warga Bumi Bung Karno. Selama 24 jam, layanan call center 112 di bawah naungan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Kota Blitar itu siaga menerima aduan darurat dari masyarakat. Misalnya, seputar peristiwa kebakaran, kriminalitas, hingga kecelakaan.
Kemarin (1/8) tepat pukul 13.00, dua operator bernama Tiara Melati dan Ugik Hariyanto tampak sibuk bertugas. Mereka menatap layar komputer sembari sigap merespons tatkala panggilan tersalur melalui headphone yang dikenakan. Meski edukasi seputar layanan aduan kedaruratan berulang kali disebarkan, tak jarang masyarakat melaporkan hal-hal konyol. “Kadang ada yang nge-prank, kasih informasi yang tidak benar. Tetapi, kami bisa membedakan mana aduan benar dan palsu. Dilayani sesuai SOP (standar operasional prosedur),” ucap Tiara sambil mengetik laporan.
Hal itu dibenarkan oleh operator lainnya, Yuli Vina Faatdin. Perempuan yang sudah bertugas sejak 2020 lalu terbilang sudah kenyang dengan beberapa laporan nyeleneh dan ghost call. Ya, ghost call umumnya dilakukan atas dasar keisengan. Selain itu, dia turut mengulas kembali salah satu pengalamannya menerima telepon dari seorang remaja galau.
Saat itu, remaja tersebut menghubungi operator call center 112 lalu mengungkapkan kegundahan hatinya akibat asmaranya kandas. Di ujung telepon, Vina hanya bisa tersenyum lantas mengedukasi kembali bahwa saat ini layanan 112 melayani laporan peristiwa membahayakan berdampak umum. “Mohon maaf, saat ini laporan belum bisa ditindak lanjuti. Kadang saling sharing ke teman tim, ya kasihan ya kocak, tapi kami kembali ke prosedurnya,” terang warga Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar itu.
Sedangkan laporan prank, lanjut dia, tak jarang diterima tim operator berjumlah total enam orang itu. Grafik panggilan palsu itu biasanya melonjak ketika memasuki libur sekolah. Nah, mayoritas penelponnya adalah anak-anak. Mereka menghubungi operator tanpa laporan jelas dan berujung gelak tawa. Lantaran sudah dibekali dengan sejumlah wawasan, operator pun menyimpulkan itu laporan tidak benar. “Ada yang lapor begini, ‘Kak kebakaran di jalan ini, eh maksudnya kecelakaan di utara stadion’. Ada cara khusus dari kami memastikan itu benar atau tidak,” lanjut perempuan 27 tahun itu.
Laporan lain yang terkesan nyeleneh juga pernah diterima. Satu di antaranya yakni laporan terkait kucing tersangkut di pohon pepaya. Secara logika, kata dia, ketinggian pohon pepaya itu masih bisa dijangkau. Namun, hal itu tetap dilayani sesuai aturan. Operator yang menerima laporan tersebut juga meneruskan informasi tersebut ke petugas pemadam kebakaran (damkar). “Bahkan, ada laporan orang mengalami kesurupan, itu masuk ke kami. Langsung kami teruskan ke petugas damkar. Itu sempat ramai dibahas,” papar perempuan yang gemar berwisata kuliner itu.
Informasi yang dihimpun Koran ini, ribuan laporan masuk ke call center 112 tiap bulannya. Dari banyaknya panggilan itu, hanya beberapa saja yang termasuk laporan konkret. Artinya, ditindak lanjuti oleh instansi terkait.
Dia pun meminta masyarakat tak segan melaporkan ke operator apabila mengalami kondisi darurat nan mendesak. “Informasi darurat bisa dilaporkan ke kami. Lalu, kami tinjau keakuratan informasinya kemudian dilaporkan kepada instansi sesuai yang menangani,” tandasnya. (luk/sub)
Editor : Doni Setiawan