Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dampak El Nino, Kemarau Berlangsung Lebih Panjang, Warga Blitar Diimbau Waspada

M. Subchan Abdullah • Selasa, 8 Agustus 2023 | 00:41 WIB
Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

KOTA BLITAR - Dampak fenomena alam berupa El Nino mulai terjadi. Indikasinya, suhu yang cenderung panas di siang hari dan dingin ketika malam.

Sebelumnya juga terdapat fenomena La Nina. Yakni, fenomena alam musim kemarau tetapi masih ada curah hujan. Sementara El Nino kebalikannya, yaitu musim kemarau yang lebih panjang tanpa ada potensi hujan.

“Secara garis besar, El Nino terjadi karena adanya pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur,” ungkap prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso, Malang, Ahmad Lutfi, kepada Jawa Pos Radar Blitar kemarin (5/8).

Peningkatan suhu tersebut menyebabkan pertumbuhan awan lebih tinggi di wilayah Samudra Pasifik tengah dan mengurangi jumlah curah hujan. Artinya, El Nino menyebabkan beberapa wilayah dilanda kekeringan sedang hingga ekstrem. Sebaliknya, La Nina terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik sedang mengalami pendinginan di bawah kondisi normal. Pendinginan ini mengurangi pertumbuhan awan dan meningkatkan curah hujan.

Fenomena El Nino, jelas dia, bersamaan dengan adanya indian ocean dipole (IOD). Yakni, fenomena penyimpangan SML di Samudra Hindia. IOD menyebabkan berubahnya pergerakan atmosfer atau pergerakan masa udara. Ketika dalam kondisi IOD positif, SML di Samudra Hindia bagian timur akan mendingin. “Sehingga menyebabkan curah hujan di Indonesia berkurang,” jelasnya.

Adanya kemarau panjang ini tentu membawa dampak bagi berbagai sektor. Salah satunya bisa menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah. Dalam bidang pertanian bisa berpotensi mengalami gagal panen. Paling berbahaya bisa meningkatkan kebakaran hutan dan lahan.

Namun, El Nino juga membawa dampak positif seperti meningkatnya produksi garam dan tangkapan ikan di wilayah pesisir. Serta meningkatkan potensi panen padi di wilayah Rawa Lebak. Untuk mengantisipasi fenomena El Nino, masyarakat harus melalakukan mitigasi.

Caranya dengan mengurangi risiko dari adanya El Nino. Seperti mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air berupa waduk dan bendungan. “Lalu menyesuaikan tanaman pertanian yang cocok dengan musim kemarau dan kesiapsiagaan bila terjadi karhutla,” tandasnya. Fenomena El Nino diperkirakan berlangsung hingga Desember, sedangkan puncaknya berkisar Agustus hingga September. (mg1/c1/sub)

Editor : Doni Setiawan
#musim kemarau #fenomena alam #cuaca ekstrem