KOTA BLITAR - Menari bukan lagi hal yang asing bagi Sindy Sasela. Warga Kecamatan Selorejo itu sudah menekuninya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Selain melestarikan warisan budaya, menari juga mendatangkan berkah. Terutama saat musim pernikahan. Spesialisasinya tarian cucuk lampah.
Sayup-sayup alunan gamelan menjadi pengantar sepasang mempelai menuju singgasana cinta. Persis di depan pengantin atau temanten, sepasang penari turut menampilkan tarian tradisional yang sarat budaya Jawa. Seakan menambah sakralnya prosesi pernikahan. Penari itu tak lain adalah Sindy Sasela yang berduet dengan salah satu rekannya, Yusuf Gunung.
Tak terhitung lagi sudah berapa banyak perempuan yang tahun ini genap berusia 24 tahun itu ngojek temanten. Ya, istilah itu memang kerap dia sematkan tatkala menarikan cucuk lampah untuk mengawal mempelai menuju pelaminan. Sebenarnya tarian ini tak hanya muncul saat pernikahan, tetapi kerap jadi tarian pembuka di gelaran akbar tertentu. “Biasanya saat kirab manten ke pelaminan. Kadang sendiri, tapi juga sepasang, tergantung permintaan,” ujarnya.
Perjalanan Sindy melebarkan sayap di dunia tari sudah dilakukan sejak masih SD. Jalur kursus dia tempuh agar lebih kenal dengan dunia tari serta luwes di setiap tari tradisional yang dia tampilkan. Tak mudah dan penuh tantangan. Begitulah ungkapannya ketika disinggung kesan-kesan terjun di dunia yang mengandalkan keselarasan gerak tubuh dengan irama pengiring itu.
Keteguhannya menari terus terjaga kala menempuh bangku SMK. Berangkat dan pulang naik bus, Sindy masih menyisakan waktu luangnya untuk latihan menari di rumah. Menurutnya, menari adalah cara meditasi diri sendiri. Selain sukses menyabet sejumlah gelar juara di tingkat kota/kabupaten, tawaran menari pun berdatangan seiring memasuki musim nikahan. “Lumayan juga buat uang saku sekolah, bantu ortu, akhirnya terima saja tawaran. Yang pasti senang, karena ya hobi yang dibayar,” imbuhnya sambil mengingat kenangan masa remaja.
Perempuan yang hobi wisata kuliner itu mengaku kerap menerima tawaran menari di berbagai acara. Tari yang kerap dia bawakan yakni gambyong parianom, gambyong pangkur, cucuk lampah, dan tari karonsih. Tarian yang memerlukan kematangan kemistri yakni tari karonsih.
Tarian ini diperagakan oleh pria dan wanita. Didominasi gerakan lembut serta gemulai, kesan khidmat begitu terasa. Penari juga harus mengatur raut wajah ekspresif untuk menggambarkan emosi yang dirasakan penarinya. “Karena dalam menari itu pasti mengedepankan unsur wiraga, wirama, dan wirasa. Bagaimana itu dipadukan sehingga pesan serta rasa bisa tersampaikan,” papar kreator konten itu.
Di tengah era yang semakin modern, dia menilai, selayaknya generasi muda tetap melestarikan warisan leluhur. Itu agar tradisi budaya tetap terjaga dan menjadi identitas bangsa. Baginya, selain nguri-uri budaya, menjadi penari cucuk lampah atau yang dikenal ngojek temanten juga mendatangkan cuan. “Itu (cuan) kan bonus istilahnya. Tapi yang jelas pengin terus menari, supaya banyak juga anak-anak kecil tertarik suka sama budaya kita,” tandasnya lantas tersenyum. (luk/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan