KABUPATEN BLITAR - Meski Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar telah memiliki Pendopo Sasana Adhi Praja, keberadaan Pendapa Agung Ronggo Hadi Negoro tetap tak tergantikan. Bahkan, konon pendapa ini menjadi saksi bisu atas banyaknya kejadian bersejarah di telatah Blitar.
Menarik untuk mengulik tampak fisik bangunan yang berlokasi di Jalan Semeru, Kota Blitar ini. Bangunan Pendapa Ronggo Hadi Negoro terdiri dari bangunan utama bergaya kolonial Belanda. Ruang ini berfungsi sebagai rumah dinas Bupati Blitar. Tapi, tak jarang pula ruang utama ini disebut sebagai pringgitan njero.
Pada bagian pilar ruang utama ini terdapat prasasti prestasi yang pernah diukir oleh masyarakat dan Pemkab Blitar. Lalu, di sisi timur ruang kerja bupati, terdapat satu ruang khusus yang difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan pusaka. Salah satunya adalah satu pusaka yang tersohor di kalangan masyarakat Blitar. Yakni, cemethi alias pecut Samandiman.
“Iya, memang pusaka-pusaka Blitar ada di Pendapa Ronggo Hadi Negoro ini. Sehingga, berkaitan erat dengan sejarah Blitar. Pendopo ini semacam istana atau rumah dinas bupati Blitar. Jadi, pendopo ini tidak tergantikan dan punya sejarah yang sangat kuat,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso.
Dibangun sejak 1875 lalu oleh Bupati Blitar kedua, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Warsoekoesomo, Pendapa Ronggo Hadi Negoro masih menyimpan banyak memori kejadian di masa lalu. Bahkan, ruang utama di pendapa ini juga menjadi saksi bisu dahsyatnya letusan Gunung Kelud pada 1919 silam. Hingga saat ini masih terlihat jelas bekas timbunan abu vulkanik. Meski begitu, bengunan ini tetap kokoh berdiri, seolah enggan takhluk dari bencana alam kala itu.
“Bisa dilihat di bagian kamar samping itu masih ada bekas abu vulkanik yang cukup tinggi. Itu bekas letusan yang terjadi pada 1919. Jelasnya, Pendapa Ronggo Hadi Negoro pernah terpendam abu vulkanik sedalam 50 centimeter,” kata Hendro lagi.
Selang beberapa waktu, lanjut Hendro, Belanda masuk ke Blitar karena memiliki karena tertarik untuk melakoni bisnis perkebunan. Suburnya tanah dan produktifitas Masyarakat Blitar jadi alasan kenapa pemerintah Belanda kala ingin membuka lahan. Oleh sebab itu, pasukan Belanda menduduki Pendapa Ronggo Hadi Negoro sebag itempat bermukim karena dinilai aman.
Seiring berkembangnya zaman, Pendapa Ronggo Hadi Negoro kini difungsikan sebagai tempat singgah Bupati Blitar atau sebagai tempat untuk menjamu tamu-tamu penting pemerintahan. Tapi satu hal yang pasti, bengunan ini juga masih dipilih sebagai tempat pagelaran acara atau event-event tertentu. Salah satunya adalah Pisowanan Agung di rangkaian peringatan Hari Jadi ke-699 Blitar. Tepatnya, pada Sabtu (5/8) lalu (jar/dit)
Editor : Doni Setiawan